Showing posts with label kesehatan. Show all posts
Showing posts with label kesehatan. Show all posts

Saturday, 16 December 2017

Ketofastosis, Tren Gaya Hidup Sehat Cegah Penyakit Degeneratif

Founder Ketofastosis Indonesia, Nur Agus Prasetyo
memberikan seminar di Lampung, Minggu (3/12/2017).
Ketofastosis? Pertamakali mendengar gaya hidup ketofastosis, jujur saja saya nggak mudeng blas, sama sekali nggak ngerti. Apa itu ketofastosis? Bagaimana pola hidup dan pola makan yang diterapkan, benar-benar info baru bagi saya. Untungnya, pada Minggu (3/12/2017), saya diundang oleh Mbak Afriyah yang akrab saya sapa Mbak Fia. Oke, pag-pagi saya sudah datang ke LPMP Provinsi Lampung karena kegiatannya digelar di aula LPMP.

Disana sudah ramai dengan peserta, serta stand-stand makanan yang rendah karbo, seperti diabetasol, tropicana slim. Dan, ternyata, semua produk makanan serta penganan yang dijual di stand sudah diolah sedemikan rupa menjadi menu tanpa karbo atau disebut juga menu ketofay. 

Ada bubur dari olahan tepung konnyaku, mie dari shirataki, lontong dari olahan agar-agar swallow yang diberi santan, kerupuk kulit, kerupuk usus, kopi tanpa glukosa, olahan susu berupa kefir dan yogurt. Pokoknya, semua makanan ketofay diolah menggunakan bahan makanan tinggi lemak dan protein sedang, dan ingat TANPA KARBO!

Nah, penasaran dong dengan pola hidup yang satu ini, katanya pola hidup sehat, tapi kok tinggi lemak, protein sedang, dan no carbo. Yups, selama seminar, aku berusaha konsentrasi menyimak penjelasan langsung dari Founder Ketofastosis Indonesia,  Nur Agus Prasetyo yang akrab  disapa Mas Tyo.

Menurut Mas Tyo, gaya hidup ketofastosis merupakan gabungan antara fastosis (puasa) dan ketosis (menjadikan keton (lemak) sebagai bahan bakar utama bagi tumbuh). Menurut Mas Tyo, sebenarnya pola hidup ketofastosis ini sudah diterapkan oleh manusia sejak zaman pra sejarah/zaman es, dimana ketika itu manusia gua hanya mengonsumsi apa yang hidup di atas tanah yaitu hewan, karena tidak ada tumbuhan yang hidup di zaman es.
Setelah makan, manusia pra sejarah kembali ke gua, dan akan keluar lagi untuk berburu mencari makan setelah beberapa hari hingga beberapa minggu.

Pola hidup manusia pra sejarah ini membuktikan daya hidup (survival) yang luar biasa. Pola puasa yang dikuti dengan konsumsi makanan tinggi lemak, protein sedang dan no carbo serta olahraga  itu membentuk postur kuat (berotot), imun kuat, serta daya hidup yang teruji hingga beberapa abad. 

“Nah, kita lihat pola hidup zaman sekarang, dimana kita dikepung dan diserbu oleh makanan tinggi karbohidrat, glukosa, semua ada di mana-mana. Apa dampaknya bagi kesehatan manusia? Obesitas, penyakit degeneratif, mulai dari diabetes, kolesterol, jantung, tumor, kanker, macam-macam. Itu penyebabnya apa? Karena manusia modern tidak bisa mengontrol mulutnya, ngunyah terus, ngunyah lagi, jadi kunci hidup sehat itu di Fasting (puasa),” ujar Mas Tyo.

Menurut dia, walaupun kita mengonsumsi makanan yang dinilai sehat, tapi dimakan secara berlebihan, dampaknya tetap tidak sehat. Karena itu, lanjutnya, pola puasa ini digabungkan dengan ketogenik yaitu menjadikan keton (lemak) sebagai sumber bahan bakar utama bagi tubuh.

“Untuk menjadikan keton sebagai bahan bakar untuk menghasilkan energi bagi tubuh, glukosanya harus dihilangkan dulu, kenapa? Karena jika darah kita masih tinggi gula, maka tubuh akan mengambil gula sebagai sumber energi sebab itu yang paling mudah dipecah menjadi ATP atau energi. 

Ini lah pentingnya fasting untuk menurunkan gula dalam darah sehingga insulin ikut turun, jika insulin turun, tubuh akan merespon dengan memerintahkan lever menghasilkan keton  untuk kemudian diolah menjadi energi, inilah yang disebut ketofastosis,” ujarnya.

Lalu, apakah bahaya jika gula darah rendah? Dan menusia tidak mengkonsumsi gula dari luar, dari makanan? Mas Tyo menjelaskan, karbohidrat merupakan salah satu nutrisi non essensial, tidak essensial diambil dari makanan karena dapat dihasilkan sendiri oleh tubuh. Menurut dia, jika tubuh tidak memasukkan karbo/gula dari luar (makanan), maka lever akan menghasilkan gula sesuai kebutuhan tubuh.




“Inilah bedanya gula yang dikonsumsi dengan gula yang dihasilkan tubuh karena tubuh pasti akan menghasilkan gula sesuai kebutuhan, sedangkan kita selalu mengikuti selera, bukan kebutuhan, ahh enak nih, makan karbo, enak nih, makan karbo lagi, padahal itu sudah berlebih dalam tubuh, tetap saja makan. Akhirnya, gula berlebih dalam darah akan diolah menjadi lemak untuk disimpan di jaringan bawah kulit,” tuturnya.

Jika manusia masih saja mengonsumsi karbo dalam kondisi gula darah yang sudah berlebih, maka lama kelamaan insulin akan kecapean, dan akhirnya gula dalam darah tinggi, konsekuensinya oksigen dalam darah turun, dan ini akan berdampak kepada buruknya respirasi sel. Inilah yang kemudian menyebabkan berbagai penyakit degeneratif dan sindrom metabolisme.

Mas Tyo memaparkan beberapa perbedaan sumber energi dari gula dan keton. Menurut dia, orang yang menjadikan glukosa/karbo sebagai sumber energi akan merasakan pusing, mual, gelap, lemas, dan perut perih jika gula darah turun.

“Ini memang gejala metabolisme yang terjadi saat gula darah rendah. Berbeda dengan keton, bagi mereka yang sudah menerapkan gaya hidup ketofastosis, tidak akan pernah merasakan sindrom metabolisme seperti itu, sebaliknya, semakin tubuh dibawa bergerak, berolahraga justru semakin segar, semakin fresh, semakin fit, itulah pembakaran keton. Jadi, ada tiga hal yang tidak boleh dilepaskan dari gaya hidup ketofastosis yaitu puasa, ketosis, dan olahraga,” katanya.

Beberapa anggota Ketofastosis Indonesia dan Lampung memberikan testimoni tentang manfaat ketofastosis terutama dalam mengatasi penyakit regeneratif yang mereka alami. Ubaidillah misalnya yang awalnya memiliki masalah obesitas dengan berat badan 108 kilogram, selama beberapa bulan menerapkan pola hidup ketofastosis berat badannya stabil di 65 kilogram.

Tidak hanya itu, penyakit gatritis kronis yang sudah lama dia idap, secara perlahan mengami penyembuhan, termasuk masalah sendi yang selama ini dia alami dengan kehilangan kemampuang menggenggam. “Dulu, kalau gatritis kambuh, bisa diopname karena sesak didada, panas, susah bernafas, tapi sekarang Alhamdulilah saya sudah lepas dari semua keluhan itu. Ini dulu jemari tangan kanan saya ini tidak bisa dikepal, sekarang saya sudah bisa mengenggam,” ujar Ubaidillah.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Ketofasosis Lampung, Arif Wahyudi mengatakan komunitas ini dibangun untuk saling menguatkan, saling berbagi dan saling sharing menu serta nutrisi haris yang harus dikonsumsi. Menurut dia, dulu menu ketofastosis sulit didapatkan, harus di pulau jawa dan harga mahal. Namun, sejak berdirinya komunitas tersebut, sudah banyak anggota yang kreatif melakukan olahanan makanan bagi para ketofay.

“Jadi, komunitas ini juga berfungsi untuk menyediakan nutrisi dan olahanan makanan bagi para ketofay,” kata Arif Wahyudi. Selain itu, lanjutnya, menerapkan gaya hidup ketofastosis di zaman modern sangat berat, tidak jarang, para ketofay dibully baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Untuk itu, komunitas ini menjadi salah satu wadah untuk curhat dan saling menguatkan agar para ketofay tidak kembali ke pola hidup yang lama. “Ketofastosis ini gaya hidup, jadi ini pilihan, sama seperti vegetarian misalnya, maka harus konsisten selamanya,” kata dia.

Seharian mengikuti seminar Ketofastosis Solusi Penyakit Metabolisme dan Degenaratif memberikan banyak wawasan dan pemahaman tentang tren gaya hidup yang satu ini. Kembali ke diri sendiri, hehehe, kuat nggak ya? Ntar dulu deh, kalau low carbo sih aku sudah terapkan !


(RINDA MULYANI)

Tuesday, 19 September 2017

Menggali Makna dari Cah Gareng

     Wajah tirus Wijiyanto semakin pucat. Matanya yang menatap penuh perhatian kepada dokter yang duduk di depannya, tiba-tiba layu. Pemuda kurus itu menundukkan wajahnya dalam-dalam. Memilin-milin jemarinya. Tulangnya seakan remuk, dia benar-benar tidak berdaya menghadapi kenyataan vonis yang baru saja dilontarkan sang dokter. Dan, yang membuatnya semakin luluh lantak adalah vonis positif mengidap HIV itu diungkapkan sang dokter saat dia berdua dengan istrinya.

Wijiyanto alias Cah Gareng.
     Wijiyanto tidak sanggup mengangkat kepalanya untuk menatap pendamping hidupnya yang sudah memberinya satu anak. Sekuat tenaga, dia berusaha menenangkan batinnya dan mencoba menghadapi kenyataan pahit tersebut.  Sekilas dia menangkap bayangan wajah istrinya yang terperangah, menutup mulut dan wajahnya menggunakan kedua telapak tangan.  Akhirnya, mereka berdua keluar dari ruangan dokter dalam diam.
     “Hari itu juga, setelah oknum dokter itu mengungkapkan vonis positif HIV di depan saya dan istri. Istri saya  langsung meminta cerai dari saya,” lirih suara Wijianto yang akrab disapa Cah Gareng mengilas masa lalunya kepada para awak media di Bandar Lampung, Jumat (8/9).
     Ketika itu penanggalan kalender menunjuk tahun 2011. Takdir hidup melemparnya kepada kesepian yang dalam. Gareng harus dirawat selama sebulan karena selain positif HIV, saat itu kondisinya sudah mencapai fase AIDS dengan penyakit penyerta TB Paru. Gareng meringkuk di kasur rumah sakit yang dingin, sendirian. Istrinya menolak untuk mengurusnya. Sementara, pemuda kelahiran Nganjuk, Jawa Timur ini juga memutuskan untuk tidak memberitahukan kondisinya kepada orangtuanya yang tinggal di Jawa Timur. “Saya tidak mau menyusahkan dan menambah beban orang tua saya,” tutur Gareng yang akhirnya mampu melalui masa tersulit dalam hidupnya.
     Gareng sempat menyimpan kemarahan atas tindakan oknum dokter yang membuka statusnya di depan dirinya dan istri, tanpa melalui konseling.  “Secara etika, itu tidak boleh, seharusnya saya dan istri mengikuti konseling terlebih dahulu agar psikologis dan mental kami siap,” kata Gareng. Namun nasi sudah menjadi bubur, Gareng menerima semua itu dengan lapang dada. Beberapa waktu kemudian,  Gareng bertemu dengan teman-teman senasib yang juga ODHA di Yayasan Pelita Ilmu, Jakarta. Disanalah Gareng mendapatkan penguatan psikologis. Gareng pun mulai memaknai takdirnya.

Terlibat Narkoba
     Gareng mengakui masa mudanya yang terlibat dunia hitam. Dia mulai menggunakan narkoba sejak 2002. Awalnya Gareng menggunakan narkoba jenis hisap, lama kelamaan efek hisap tidak mempan lagi membuatnya ‘fly’ dan  mendorongnya untuk menggunakan narkoba suntik. Pemakaian barang-barang haram ini dia lakukan bersama teman-temannya hingga 2005. Tiga tahun terpuruk di dunia narkotika, Gareng memutuskan untuk berhenti. Dia kemudian menikah dan memiliki seorang anak laki-laki.
     Pada 2009, Gareng bekerja sebagai security di sebuah mall di Jakarta. Tanpa dia sadari, semakin hari kondisi tubuhnya semakin lemah. Akhirnya Gareng benar-benar drop, badannya demam tinggi dan batuk tiada henti. Gareng divonis menderita TB Paru. Dia kemudian harus menjalani terapi TB Paru dengan mengonsumsi obat-obatan TB secara rutin. Namun, bukannya membaik,  kondisi kesehatan Gareng justru semakin menurun. Badannya semakin kurus, nafsu makan berkurang, dan penyakit yang dia alami tidak kunjung sembuh.
     “Saya juga mengalami sariawan di mulut yang tidak sembuh-sembuh, bahkan ada semacam luka di tenggorokan yang membuat saya tidak bisa menelan, hampir satu minggu saya tidak bisa makan. Karena kondisi yang semakin memburuk akhirnya saya dirawat,” ujar Gareng. Melihat kondisi Gareng yang semakin ‘drop’ , dokter mulai curiga ada dindikasi HIV, maka dia disarankan untuk tes HIV, dan hasilnya positif.

Bangkit dan Berkarya
     Diskriminasi pertama yang dialami Gareng sebagai pengidap HIV/AIDS waktu itu justru dari orang terdekat, yaitu  istrinya. Hari itu dia divonis HIV, dan hari itu juga istrinya meminta cerai darinya. Saat Gareng membutuhkan uluran tangan orang-orang yang dia cintai untuk merangkul dan memberinya semangat untuk bertahan hidup, tapi saat itu pula dia menerima kenyataan dicampakkan sendirian.  Tidak ada yang menemaninya saat jatuh, tidak ada yang merawatnya saat sakit, hanya perawat-perawat berbaju putih yang setiap hari menyapa dan mengantarkan obat untuknya.
     Gareng mampu bangkit setelah berkumpul dan bertemu dengan teman-teman ODHA di Yayasan Pelita Ilmu. Disana, mereka saling menguatkan dan mengingatkan untuk terus hidup sehat agar bisa bekerja, mandiri, dan bermanfaat bagi orang lain. Pada 2012, Gareng berpikir untuk melakukan tes HIV kepada anaknya, tapi saat berkonsultasi kepada dokter, dia disarankan untuk mengetes mantan istrinya terlebih dahulu sebab jika ibu negatif, maka anak  juga akan negatif karena tidak terjadi interaksi dan kontak yang menyebabkan risiko penularan . “Alhamdulillah mantan istri saya negatif berarti anak saya negatif, jadi tidak perlu di tes. “
     Hasil negatif ,  terutama pada anaknya memberi semangat tersendiri untuk Gareng. Dia memutuskan menerima seluruh masa lalunya dan menjadikannya sebagai pembelajaran, tidak hanya untuk dirinya, tapi juga untuk orang lain. Bagi Gareng, semua orang memiliki masa lalu, tapi setiap orang juga memiliki masa depan.  “Belajar dari masa lalu itu penting, tapi belajar menghadapi masa depan itu yang terpenting,” tutur Gareng.
     Dengan tekad yang kuat dan kesiapan mental yang matang, Gareng memutuskan untuk membuka statusnya kepada seluruh masyarakat, dan pada 7 November 2015, Gareng memulai Ekspedisi Langkah Kaki Jelajah Negeri. Dia menjalankan misi mulia untuk menyosialisasikan pencegahan HIV, dan mengedukasi masyarakat tentang HIV/AIDS agar mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap penderita HIV.  “HIV itu bukan akhir dari hidup kita, hidup kita berakhir manakala semangat kita sudah padam. Saya ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa orang yang terinfeksi HIV juga bisa hidup sehat, mandiri, berkarya dan berprestasi. Jadi, jauhi virusnya, jangan orangnya,” kata Gareng.

Jalan Kaki Keliling 33 Provinsi
     Tekad Gareng untuk berjalan kaki keliling Indonesia mengampanyekan pencegahan penularan HIV mendapat dukungan dari banyak pihak. Gareng memilih tanggal 7 November sebagai awal ekspedisi karena hari tersebut merupakan hari spesial baginya. “Tanggal 7 November itu hari kelahiran saya,” katanya sambil tersenyum. Gareng berjalan kaki dengan membopong ransel di punggungnya. Dia menyematkan satu bendera merah putih kecil di dekat ransel sebagai simbol ekpedisi jelajah negeri yang dia lakukan. 
     Pemuda usia 32 tahun itu memulai langkahnya dari Jakarta menuju Jawa Barat, dilanjutkan ke Jawa Tengah, Yogyakarta,  Jawa Timur, Bali, lalu berputar ke Papua Nugini, Maluku Utara, Sulawesi Utara, dan baru memasuki Sumatera. Gareng tiba di Bandar Lampung pada Rabu (5/9).  “Saya masuk ke Bandar Lampung dari Bangka Belitung. Untuk Sumatera, semua provinsi saya kunjungi, kecuali Bangkulu, karena paling pojok, sementara saya harus menyelesaikan ekspedisi ini tepat pada 7 November 2017 di Jakarta,” tuturnya.

Pengalaman Haru Biru
     Selama seminggu di Bandar Lampung, Gareng melakukan banyak kegiatan kampanye dan edukasi tentang HIV/AIDS kepada masyarakat. Gareng berkumpul bersama para awak media yang bergabung dalam Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Lampung, bertemu Gubernur Lampung, menyambangi  teman-teman di komunitas ODHA, didampingi pihak Dinas Kesehatan Provinsi Lampung melakukan talkshow ke Radio SAI 100 FM, di hari terakhir  melakukan diskusi inspiratif dengan ratusan mahasiswa Universitas Malahayati.
     Di setiap provinsi, Gareng berusaha menemui sahabat-sahabat ODHA untuk memberi semangat dan motivasi. Gareng menekankan, ODHA memiliki dua tanggungjawab yaitu sehat untuk diri sendiri karena dengan sehat maka pengidap HIV bisa bekerja dan mandiri. Kedua, tanggung jawab moral untuk tidak menularkan virus HIV kepada siapa pun. “Saya sarankan, bagi sahabat-sahabat saya yang hasilnya negatif, pertahankan bagaimana selamanya negatif, tapi kalau positif ada dua tanggungjawab,  sehat untuk diri sendiri dan tidak menularkan virus kepada orang lain,” tutur Gareng.
     Pemuda berhidung mancung ini juga berbagi pengalaman selama melakukan ekpedisi jalan kaki menjelajahi 33 provinsi.  Dia mengaku salah salah satu pengalaman yang membuatnya terharu adalah saat melakukan ekspedisi di Palembang. Gareng sengaja mengatur strategi bagaimana caranya agar bisa tiba di Palembang tepat saat perayaan 17 Agustus. Dia berjalan dari Banyu Asin membawa bendera besar sendirian. “Alhamdulillah sangat luar biasa respon dari masyarakat Palembang, saya diberi makan, diberi minum, disuruh mampir, bahkan diberi duit oleh polisi dan tentara. Mereka semua tahu status saya (HIV), tapi tidak ada jarak diantara kami,” kata Gareng antusias.
     Namun, lanjutnya, dia juga kerap melihat sikap diskriminatif masyarakat terhadap penderita HIV. Pernah suatu hari, dia diundang menjadi pembicara pada pertemuan tentang pencegahan HIV/AIDS. Sebelum Gareng tampil, seorang bapak menyarankan untuk mengusir dan mengkarantina penderita HIV. Ketika tiba waktunya Gareng untuk menyampaikan sosialisasi tentang HIV, dia maju dan menyalami bapak tersebut,  lalu membuka statusnya. “Kalau HIV bisa menular dengan salaman, maka bapak sudah kena, silahkan usir saya. Disitu akhirnya masyarakat mengerti bahwa penderita HIV juga bisa hidup sehat dan bermanfaat,” katanya.
     Selesai di Bandar Lampung, pada Rabu (12/9), Gareng mulai berjalan kaki menuju Kalianda, Lampung Selatan dari Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Lampung. Dia dilepas oleh pihak dinas, sahabat ODHA, dan rekan-rekan wartawan. Tubuh Gareng boleh lelah berjalan, tapi semangat Gareng tidak akan pernah pudar untuk terus menggelorakan pencegahan HIV di tengah masyarakat. Bahkan, Gareng telah meninggalkan jejak tapaknya di setiap provinsi agar masyarakat ingat bahwa ODHA juga bisa berprestasi dan berbuat untuk kebaikan negeri!


(RINDA MULYANI)

Thursday, 14 September 2017

PCC Dicurigai Mengandung Campuran Flakka?

Pengakuan salah satu korban pil PCC di Kendari, Sulawesi Tenggara yang sudah sadarkan diri, cukup mengejutkan. Dia mengatakan sudah pernah mengonsumsi pil PCC, tapi efeknya berbeda dengan pil PCC yang dia minum beberapa hari lalu. “Hanya dua butir saja aku minum langsung enggak sadar, sesudah sadar tubuh aku luka-luka, aku enggak tau kenapa dapat begini,” kata Aris seperti dikutip dari news.okezone.com.
     Karena curiga dengan kandungan pil PCC tersebut, Aris mendatangi Kantor Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Kendari memberikan pil PCC yang telah membuatnya hilang kesadaran.  Pihak BNN mengaku masih bekerjasama dengan BPOM untuk memeriksa kandungan pil PCC yang menelan korban hingga puluhan orang tersebut.
     Ahli kimia farmasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Kombes Pol Drs Mufti Djusnir mengakui efek yang ditimbulkan PCC dengan Flakka, jenis narkoba baru yang memiliki efek ‘zombie’ tersebut seharusnya berbeda. "Untuk menuju ke kasus itu, harus ada hasil uji laboratorium," katanya.

Ini bentuk Pil PCC dan kristal Flakka.

Lalu, apa beda PCC dan Flakka?

     Obat PCC merupakan sebuah pil berwarna putih dengan merek dagang somadril compound. Pil ini berfungsi mengatasi nyeri pada pinggang atau kejang otot dan harus dikonsumsi sesuai resep dokter. Pemakaian overdosis pil PCC dapat menyebabkan kerusakan hati, pencernaan, pendarahan hamil, ruam-ruam kulit seperti stephen johnson, dan penurunan kesadaran karena ada zat pelemas otot. Efek mengantuk serta halusinasi juga bisa terjadi saat mengonsumsi dalam jumlah berlebihan. Efek paling berbahaya pada penyalahgunaan obat-obatan ini adalah kerusakan dan kecacatan syaraf. Obat ini menghambat kerja otak, bisa menghilangkan kesadaran hingga menyebabkan kematian.
     Sedangkan Flakka berbentuk kristal, memiliki zat aktif berupa fentanyl derifat. Zat ini memiliki potensi 10.000 kali lebih kuat dibanding morfin. Mengandung senyawa MDPV (Methylenedioxypyrovalerone). Dikutip dari news.detik.com, Ketua Umum DPP Granat (Gerakan Nasional Anti Narkotika) Henry Yosodiningrat menjelaskan Flakka memiliki potensi 100 kali lebih kuat daripada heroin. Flakka digolongkan jenis narkoba baru yang sangat berbahaya.
     Senyawa kimia berbahaya pada Flakka menyebabkan penggunanya berada pada fase ilusi akut. Menyebabkan efek paranoid sehingga penggunanya mengamuk bahkan tidak sadar sedang melukai diri sendiri. Kandungan obat Flakka ini merangsang bagian otak yang mengatur hormon dopamin, serotonin dan mood.  

     Obat sintetis ini diproduksi pada 2012. Kemudian, penggunaannya dilarang karena memiliki efek yang sangat berbahaya. Senyawa pada Flakka meninggalkan efek yang lama dan dapat terjadi permanen pada otak sehingga menghancurkan fungsi otak.
     Nah, pertanyaannya apakah pil PCC bisa memiliki efek yang sama dengan nakroba Flakka? Apakah efek itu diperoleh karena PCC diminum menggunakan campuran obat lain dengan kandungan yang sama sehingga terjadi overdosis? Anehnya, kenapa obat PCC itu disebarkan kepada anak-anak dan remaja dan memiliki efek yang sangat mirip dengan Flakka.
     Apapun itu, pemerintah dan aparat harus waspada dan meneliti dengan akurat pada uji laboratorium kandungan pil PCC yang telah menelan 60 lebih korban di Kendari, Sulawesi Utara. Jangan sampai, para pengedar mengelabui aparat memasukkan narkoba Flakka dalam bentuk kemasan pil PCC.

(RINDA MULYANI)

Cegah Anak Dari PCC Yang Memiliki Efek Mirip Flakka

Saat membuka facebook siang tadi (14/9/2017), beredar video anak dengan kondisi hilang kesadaran, merangkak di pinggir jalan, memutar-mutar kepala dan kemudian tumbang. Pada foto berikutnya terpampang gambar pil bulat berwarna putih bertuliskan PCC, juga ada foto obat berwarna merah jambu berbentuk beruang. Diinfokan anak dalam video tersebut mendadak seperti orang gila setelah meminum pil PCC.
     Innalillahi...sebagai orang tua, saya shock! Benar-benar shock!  Awalnya saya pikir itu hoax. Dengan pikiran terbang kesana-sini, saya mulai mengetik PCC di kolom pencarian google. Dan, berita-berita tentang PCC yang menelan korban pelajar di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) bertebaran di layar komputer.
      Membaca berita dari situs-situs resmi seperti news.detik.com, tubuh saya semakin merinding. Jujur saya, hati saya mendidih. Bagaimana tidak, obat PCC yang memiliki efek seperti Flakka ini diedarkan kepada para pelajar SD, SMP, dan SMA. Kejamnya para pengedar itu, apa tujuan mereka, kalau bukan untuk menghancurkan generasi muda Indonesia. Hingga tadi malam, sekitar pukul 21.00, korban obat PCC ini bertambah hingga 68 orang. Bahkan, dua diantaranya meninggal dunia, yaitu siswa SD dengan inisial R akibat overdosis, dan Riski (20) berhalusinasi kemudian melompat ke laut, tenggelam dan ditemukan tidak bernyawa.

Cari Informasi Sebanyaknya
     Sebagai orangtua, hal pertama yang saya lakukan adalah mencari dan memamah sebanyak-banyaknya informasi tentang PCC ini. Mulai dari bentuk obatnya, metode penyebarannya kepada para korban, gejala serta dampaknya secara medis terhadap korban. Di internet sudah banyak beredar foto obat PCC. Bentuknya berupa pil bulat, berwarna putih, dan di pil tersebut tertulis PCC. Obat ini tidak boleh dijual bebas di apotik.

Apa Gejala Mengonsumsi PCC?
     Orang yang meminum obat PCC akan merasa kepanasan, wajah merah, serta suka mencak-mencak dan berhalusinasi. Seperti yang terjadi pada korban Riski, tidak sempat tertolong oleh orangtuanya karena korban melompat ke laut lalu tenggelam, dan saat ditemukan sudah tidak bernyawa.

Bagaimana Efek FCC?
     Dilansir dari news.liputan6.com, Staf Ahli Kimia Farmasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Kombes Mufti Djunir mengatakan dari pengakuan salah satu korban terungkap dia mengonsumsi  tiga jenis obat berbeda, yakni Tramadol, Somadril, dan PCC. Ketiga jenis obat itu dicampur dan diminum secara bersamaan dengan menggunakan air putih. (Apakah PCC mengandung campuran Flakka?)
     Menurut Mufti, jika dicampur, ketiga obat tersebut akan menimbulkan efek sinergis yang memengaruhi susunan saraf pusat. Bekerja searah menghantam syaraf pusat otak dan akan menimbulkan ketidakseimbangan. Inilah yang menyebabkan korban berhalusinasi dan kehilangan kesadaran diri. Obat PCC sendiri mengandung senyawa Carisoprodol yang berfungsi mengatasi nyeri dan ketegangan otot. Obat ini biasa digunakan pasien saat istirahat, ketika melakukan terapi fisik. Obat ini tidak dikategorikan jenis narkotika, tapi mengandung zat aditif yang memiliki efek berbahaya.

Modus Pengedar PCC
     Pengedaran obat PCC menyasar anak-anak dan remaja. Terbukti, sebagian besar korban di Kendari, Sultra adalah pelajar SD, SMP, SMA dan beberapa orang pegawai. Dikutip dari news.detik.com, Deputi Pemberantasan BNN Arman Depari mengatakan pihak BNN dan kepolisian masih menyelidiki motif pengedaran obat yang memiliki efek seperti Flakka tersebut. Apa motivasi para pengedar sehingga menyasar anak-anak dibawah umur.

Segera Beritahu Anak
     Setelah memiliki informasi lengkap tentang PCC dan bahayanya, sesampainya di rumah, saya langsung mendekati anak saya. Saya ajak tiduran sambil bermain andorid. Lalu, saya buka foto-foto PCC dan saya perlihatkan kepada anak saya. “Ingat ya Nak, ini adalah pil yang berbahaya, jangan pernah menerima apapun pemberian dari orang asing, terutama pil seperti ini,” ujar saya dengan suara perlahan. Walau hati saya panik dan khawatir, tapi saya menjaga irama suara setenang mungkin.
     Saya juga menjelaskan tentang bahaya mengonsumsi obat tersebut. Kemudian, saya menganjurkan anak saya untuk memberitahukan informasi obat PCC ini kepada teman-teman di sekolahnya.Serta mengingatkan,  saat membeli makanan apapun untuk memeriksa bungkusnya, memperhatikan secara detil nomor register,  izin BPOM, tanda halal, kandungan gizi, dan tanggal kadaluarsa.
     Semoga, aparat BNN dan kepolisian bisa segera menangkap para pelaku pengerdar PCC dan mengungkap motif mereka menyasar anak-anak dan remaja. Yang jelas, saat ini, setiap orangtua harus waspada. Segera beritahu anak Anda bentuk pil PCC dan dampak mengonsumsi obat tersebut. Pencegahan harus kita awali dari rumah!

(RINDA MULYANI)




Monday, 11 September 2017

Begini Cara Mencegah Stuting Pada Anak

     Kementrian Kesehatan mencatat sekitar 37,2% atau 9 juta anak di Indonesia mengalami stuting atau gagal tumbuh  sehingga tinggi anak dibawah standar. Dokter Marina Danajanti , MKM dari Kementrian Kesehatan mengatakan stuting  merupakan gagal tumbuh pada anak yang menyebabkan tinggi anak dibawah standar atau cebol.

Dokter Marina Danajanti, MKM menyampaikan materi tentang penyebab stuting pada anak.
      “Stuting juga berdampak pada perkembangan kognitif anak, otak tidak berkembang optimal sehingga kognitif anak rendah atau bodoh. Inilah bahayanya stuting,” ujar Marina saat menyampaikan materi tentang Peran Pemerintah Dalam Menurunkan Prevelansi Stuting pada kegiatan Flash Blogging di Hotel Novotel, Bandar  Lampung, Rabu (12/9/2017). Kegiatan Temu Blogger yang digagas Kementrian Kominfo ini dihadiri Direktur Kemitraan Komunikasi Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Kominfo Dedet Surya Nandika, Kepala Seksi Pengelola Opini dan Aspirasi Publik Kominfo Lampung Yulia Siria, dan 50 blogger Lampung.
     Marina  menjelaskan, stuting pada anak dipengaruhi oleh 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) anak yaitu 270 hari pertama dalam kandungan ditambah 2  tahun kehidupan anak setelah dilahirkan. “Ini menjadi masa emas dan kritis pertumbuhan anak. Jika janin dan bayi mendapatkan nutrisi sempurna, maka akan tumbuh sehat dengan kualitas SDM yang baik,” ujar Marina.
     Namun, lanjutnya, jika di masa itu tidak dilalui dengan baik, maka anak akan beresiko stunting. Dia menjelaskan, beberapa hal yang menyebabkan anak tumbuh stunting yaitu kehamilan kurang gizi, ibu kurus,  atau janin terkena infeksi. “Bagaimana cara mencegah masalah stuting ini? Ibu-ibu harus rajin ke posyandu, pantau perkembangan berat badan anak. Jika ditemukan penurunan berat badan, maka harus dilakukan intervensi melalui suplemen atau makanan penambahan gizi. Di posyandu itu, kuncinya di meja 5, apa di meja 5? Edukasi. Namun, justru ini yang jarang dilakukan di lapangan, edukasi kesehatan kepada para ibu sangat penting,” tuturnya.
     Selain edukasi,  peran masyarakat juga sangat penting untuk saling mengingatkan tentang gizi anak. “Jadi kalau kita melihat ada anak yang lebih pendek dari umumnya, baik  di posyandu, sekolah, pengajian, atau dimana pun, ingatkan keluarganya bahwa ada masalah dengan anaknya agar segera dikonsultasikan ke dokter. Apakah kita berani? Karena ini merupakan tanggungjawab kita bersama, sampaikan dengan cara yang baik kepada orangtuanya,” kata Marina.
     Dia mengimbau ibu-ibu hamil harus menjaga asupan gizi yang cukup dan seimbang,  melakukan inisisasi ASI dini pada bayi, memberikan ASI eksklusif selama enam bulan, berikan ASI selama dua tahun, serta berikan makanan bergizi seimbang sesuai kebutuhan dan usia anak. “Ibu hamil anemia, kurus dan kurang gizi masih banyak di Indonesia, dan ini menyebabkan anak lahir dengan berat badan rendah yang beresiko stunting,” tuturnya.


(RINDA MULYANI)

Wednesday, 6 September 2017

Broadcast Tusuk Gigi Kunyit Pendeteksi Boraks, Hoak atau Bukan?

Dini hari, pukul 2.15, Kamis (7/9/2017), saya membuka pesan whatsapp  di grup Komunitas Peduli Kanker. Ada info menarik bagi penggemar bakso untuk membawa tusuk gigi dan kunyit  untuk mendeteksi boraks pada bakso yang mau dimakan. Caranya tusukkan tusuk gigi ke kunyit, lalu tusukan pada bakso atau makanan yang akan diuji, tunggu 5 detik. Jika makanan tersebut mengandung boraks, maka tusuk gigi yang terkena kunyit tadi akan berubah menjadi warna merah.
Info ini sangat meyakinkan karena disana dijelaskan bahwa metode sederhana ini merupakan hasil temuan dua siswi SMAN 3 Semarang, Dayu Laras Wening dan Luthfia Adila yang berhasil menyabet medali emas pada International Exhibition for Young Inventors (IEYI) 2014. Alat deteksi sederhana yang mereka buat tersebut dinamakan SIBODEC atau Stick of Borax  Detector).
Broadcast tentang tusuk gigi dan kunyit pendeteksi boraks.
Sebagai penggemar bakso, tentu saja info ini sangat  menarik dan penting bagi saya. Namun, Oops, tunggu dulu. Di zaman kebebasan informasi saat ini, saya tidak mau tertipu dengan berita atau artikel hoax. Saking penasarannnya, mata pun tidak mau terpejam. Akhirnya, saya berselancar di dunia maya mencari kepastian tentang informasi ini.
Nah, ada dua artikel yang saya temukan. Mungkin, pembahasan dua artikel ini dapat menjadi pertimbangan bagi pembaca untuk mengambil pilihan apakah akan menerapkan cara praktis pengujian borak menggunakan tusuk gigi dan kunyit tersebut atau tidak.

Hoax atau bukan?
Artikel pertama saya unduh dari bilazhr.wordpress.com  yang mengunggah penelitian berjudul  ‘Menguji Kandungan Boraks pada Beberapa Makanan Menggunakan Kunyit’. Pada Wordpress tertulis nama pemiliknya Nabila Zahra, siswa SMAIT P Nururrahman. Dia mengunggah artikel tersebut pada 15 November 2014.
Artikel berupa penelitian sederhana tersebut disusun lengkap mulai dari Bab Pendahuluan, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Metodelogi Penelitian, Cara Kerja, Pembahasan, hingga Kesimpulan dan Saran. Sangat menarik, ditampilkan cara kerja dan hasil tes dari beberapa produk pangan berupa  mi basah, kerupuk gendar, sosis siap makan Daling , kerupuk tempe, kerupuk warung ikan SHS, ketupat  pasar, tahu china rumahan, bleng, sosis siap makan Kimbo, dan tahu china pasar.
Dalam artikel dijelaskan pengujiannya dengan cara mencampurkan 2 ml ekstrak kunyit  kepada ekstrak makanan yang akan diuji dengan perbandingan 1:1. Hasilnya, makanan yang mengandung borak menunjukkan warna merah kecoklatan.
Pada Bab Pembahasan dijelaskan bahwa  boraks  dengan nama senyawanya natrium biborat, natrium piroborat, natrium tetraborat (Na2(B4O5(OH)4)8H2O)  akan bereaksi dengan senyawa kurkumin yang terkandung dalam kunyit. Kurkumin mampu menguraikan ikatan-ikatan boraks menjadi asam borat, kemudian mengikatnya menjadi kompleks warna rosa atau yang biasa disebut dengan senyawa boron cyano kurkumin kompleks.
Maka, ketika makanan yang mengandung boraks  ditetesi dengan ekstrak kunyit akan mengalami perubahan warna menjadi merah kecoklatan. Saran dari penelitian tersebut adalah melakukan penelitian lanjutan untuk pengukuran kadar boraks sehingga data yang diperoleh lebih akurat.
Artikel ini semakin meyakinkan saya bahwa  alat tusuk gigi dan kunyit bisa kita gunakan untuk mendeteksi boraks pada makanan. Namun, tunggu dulu, saya juga mengunggah hasil investigasi dari  detikcom. Mungkin ini akan memengaruhi keyakinan Anda.

Tusuk gigi dan kunyit.
Dalam berita detikcom dijelaskan bahwa pihak mereka menghubungi salah satu siswa yang disebutkan sebagai penemu alat tes tusuk gigi tersebut, Luthfia Adila. Dila sapaan akrabnya, saat diwawancara pada Juli 2016 sudah menjadi mahasiswa Teknik UGM, Yogyakarta. Dila mengaku tidak tahu siapa yang menyebarkan pesan berantai tentang tusuk gigi dan kunyit pendeteksi boraks tersebut.
Menurutnya, dia dan Wening memang menemukan racikan bahan herbal yang bisa diaplikasikan ke tusuk gigi untuk mendeteksi boraks. Mereka menamakan alat tersebut dengan SIBODEC. Namun, hingga sekarang, dia mengaku belum pernah membagikan cara pembuatan alat deteksi boraks tersebut. Dila juga tidak membeberkan rahasia kandungan herbal yang digunakan.
Dila mengakui kandungan  kurkumin dalam kunyit memang bisa bereaksi dengan boraks melalui perubahan warna merah kecoklatan. Namun, ujarnya, satu pereaksi kurkumin saja tidak efektif, mereka mencampurkan bahan herbal lain sebagai pereaksi. Pada rapid testkit yang dipakai di laboratorium pun, sedikitnya ada dua pereaksi yang digunakan.
Pada prinsipnya, boraks  yang bersifat basa akan bereaksi dengan kurkumin. Tanpa tambahan pereaksi lain, kurkumin juga akan bereaksi dengan bahan-bahan basa lain seperti sabun atau soda kue.
Hmm, bagaimana menurut pembaca? Kalau saya pribadi mendapat kesimpulan bahwa kunyit memang dapat mendeteksi keberadaan boraks pada makanan, walau kurang efektif karena juga bisa mendeteksi zat basa lain, serta kadarnya tidak diketahui. Yups, kalau saya Yes,  saya memilih untuk menyimpan tusuk gigi dan kunyit dalam tas saya!

(RINDA MULYANI)


Tuesday, 5 September 2017

Pengabdian Sang Calon Bidan

Gadis muda berjilbab itu mendekati salah satu penghuni Rumah Singgah Komunitas Peduli Lampung di  Jalan Sam Ratulangi Nomor 64, Penengahan, Tanjungkarang Pusat, Bandar Lampung. Tanpa sungkan, dia duduk di depan bayi penderita hidrosepalus, M Kahfi yang masih berusia 9 bulan mengompres kening dan ketiak Kahfi. Sri Rahayu nama gadis muda tersebut. Dia adalah calon bidan yang sudah dua tahun ini bergabung menjadi sukarelawan Komunitas Peduli Generasi Lampung.
“Ini tubuh Kahfi sudah agak mendingan, sudah tidak terlalu panas, terus dikompres ya Bu, obatnya jangan lupa dikasih sesuai jadwal yang dikasih tahu dokter,” ujar Sri Rahayu kepada orangtua pasien hidrosepalus, Rinjani, Selasa (25/8/2017). Sri Rahayu yang kini masih menempuh studi akhir di salah satu pendidikan kebidanan di Bandar Lampung itu juga mendatangi dua pasien lain yang menginap di rumah singgah. Ada pasien gagal ginjal, Suyanto asal Lampung Utara, dan pasien Stevens-Johnson Syndrome (SJS) dengan seluruh tubuh melepuh seperti luka bakar.

Sukarelawan Komunitas Peduli Generasi Lampung, Sri Rahayu.
Sri Rahayu mengatakan, Rumah Singgah ini didirikan oleh seorang pengusaha yang peduli dengan kondisi masyarakat miskin di Lampung. Menurutnya, walaupun masyarakat miskin sudah tercover oleh BPJS Kesehatan, tapi tetap saja mereka kesulitan untuk memenuhi biaya hidup dan biaya transportasi selama berobat ke Rumah Sakit di Ibukota Provinsi.
“Jadi yang ditampung di Rumah Singgah ini khusus pasien BPJS Kesehatan kelas III yang tinggal di luar Bandar Lampung, seperti dari Lampung Utara, Lampung Selatan, dan Tanggamus,” ujarnya. Rumah singgah ini juga sering didatangi pasien miskin yang belum tercover BPJS Kesehatan, dan para relawan mengarahkan keluarga pasien untuk mengurus BPJS Kesehatan, sedangkan pasien akan didampingi untuk berobat mulai dari puskesmas atau fasilitas primer hingga rujukan ke rumah sakit tipe C, B dan A. Rumah singgah ini tidak hanya ada di Bandar Lampung, tapi juga sudah memiliki cabang di Jakarta. “Jadi kalau ada yang dirujuk ke rumah sakit tipe A di Jakarta, bisa langsung ditampung di rumah singgah Komunitas Peduli Generasi Lampung cabang Jakarta,” tuturnya.

Berharap Semakin Banyak Dermawan
Rumah singgah di Bandar Lampung ini berupa bangunan dua lantai dengan tiga kamar tidur untuk pasien. Para sukarelawan rumah singgah tersebut sebagian besar merupakan mahasiswa bidang kesehatan yang ada di Provinsi Lampung. Disini, mereka belajar mengabdi berupaya memberi arti.
Di rumah singgah ini, pasien menginap gratis, pasien hanya membayar Rp5.000 per hari untuk kebutuhan lauk dan sayur pasien tersebut. Sedangkan beras disediakan oleh rumah singgah. Siang itu, beberapa keluarga pasien sedang menumis sayur dan menggoreng tempe di dapur rumah singgah tersebut. Di halaman belakang dapur juga terdapat tanaman sayur hidroponik yang dapat dipetik dan diolah oleh pasien.
Sambil berjalan menunjukkan suasana dapur, Sri Rahayu menjelaskan sebagai besar pasien yang ditampung di rumah singgah memiliki penyakit berat, seperti jantung, kanker, hidrosepalus, dan gagal ginjal. Dia mengaku, rumah singgah ini kerap terpaksa menolak pasien miskin karena sudah penuh. Dia berharap, semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk melakukan hal yang sama dengan membangun rumah singgah bagi pasien miskin.
“Karena biaya hidup dan transpotasi bolak-balik berobat itu cukup besar, sampai jutaan, kasihan pasien-pasien miskin yang terkadang harus berutang untuk memenuhi biaya hidup selama berobat,” ujarnya. Padahal, lanjutnya, penyakit yang didera membutuhkan terapi pengobatan yang lama bahkan ada yang harus menjalani terapi seumur hidup. “Ya, semoga pemerintah daerah mau memenuhi semua fasilitas yang dibutuhkan masyarakat, dan semakin banyak para dermawan yang tergerak membantu pasien miskin, minimal yang ada di lingkungan sekitar mereka,” lirih suara Sri Rahayu seperti selarik doa.

(Rinda Mulyani)