Wajah
tirus Wijiyanto semakin pucat. Matanya yang menatap penuh perhatian kepada
dokter yang duduk di depannya, tiba-tiba layu. Pemuda kurus itu menundukkan
wajahnya dalam-dalam. Memilin-milin jemarinya. Tulangnya seakan remuk, dia
benar-benar tidak berdaya menghadapi kenyataan vonis yang baru saja dilontarkan
sang dokter. Dan, yang membuatnya semakin luluh lantak adalah vonis positif
mengidap HIV itu diungkapkan sang dokter saat dia berdua dengan istrinya.
![]() |
| Wijiyanto alias Cah Gareng. |
Wijiyanto
tidak sanggup mengangkat kepalanya untuk menatap pendamping hidupnya yang sudah
memberinya satu anak. Sekuat tenaga, dia berusaha menenangkan batinnya dan
mencoba menghadapi kenyataan pahit tersebut.
Sekilas dia menangkap bayangan wajah istrinya yang terperangah, menutup
mulut dan wajahnya menggunakan kedua telapak tangan. Akhirnya, mereka berdua keluar dari ruangan
dokter dalam diam.
“Hari
itu juga, setelah oknum dokter itu mengungkapkan vonis positif HIV di depan
saya dan istri. Istri saya langsung
meminta cerai dari saya,” lirih suara Wijianto yang akrab disapa Cah Gareng
mengilas masa lalunya kepada para awak media di Bandar Lampung, Jumat (8/9).
Ketika
itu penanggalan kalender menunjuk tahun 2011. Takdir hidup melemparnya kepada
kesepian yang dalam. Gareng harus dirawat selama sebulan karena selain positif
HIV, saat itu kondisinya sudah
mencapai fase AIDS dengan penyakit penyerta TB Paru. Gareng meringkuk di kasur
rumah sakit yang dingin, sendirian. Istrinya menolak untuk mengurusnya. Sementara, pemuda kelahiran Nganjuk, Jawa
Timur ini juga memutuskan untuk tidak memberitahukan kondisinya kepada
orangtuanya yang tinggal di Jawa Timur. “Saya tidak mau menyusahkan dan
menambah beban orang tua saya,” tutur Gareng yang akhirnya mampu melalui masa tersulit dalam hidupnya.
Gareng
sempat menyimpan kemarahan atas tindakan oknum dokter yang membuka statusnya di
depan dirinya dan istri, tanpa melalui konseling. “Secara etika, itu tidak boleh, seharusnya
saya dan istri mengikuti konseling terlebih dahulu agar psikologis dan
mental kami siap,” kata Gareng. Namun nasi sudah menjadi bubur, Gareng menerima
semua itu dengan lapang dada. Beberapa waktu kemudian, Gareng bertemu dengan teman-teman senasib
yang juga ODHA di Yayasan Pelita Ilmu, Jakarta. Disanalah Gareng mendapatkan
penguatan psikologis. Gareng pun mulai memaknai takdirnya.
Terlibat Narkoba
Gareng
mengakui masa mudanya yang terlibat dunia hitam. Dia mulai menggunakan narkoba
sejak 2002. Awalnya Gareng menggunakan narkoba jenis hisap, lama kelamaan efek
hisap tidak mempan lagi membuatnya ‘fly’ dan
mendorongnya untuk menggunakan narkoba suntik. Pemakaian barang-barang
haram ini dia lakukan bersama teman-temannya hingga 2005. Tiga tahun terpuruk
di dunia narkotika, Gareng memutuskan untuk berhenti. Dia kemudian menikah dan
memiliki seorang anak laki-laki.
Pada
2009, Gareng bekerja sebagai security di sebuah mall di Jakarta. Tanpa dia
sadari, semakin hari kondisi tubuhnya semakin lemah. Akhirnya Gareng
benar-benar drop, badannya demam tinggi dan batuk tiada henti. Gareng divonis
menderita TB Paru. Dia kemudian harus menjalani terapi TB Paru dengan
mengonsumsi obat-obatan TB secara rutin. Namun, bukannya membaik, kondisi kesehatan Gareng justru semakin
menurun. Badannya semakin kurus, nafsu makan berkurang, dan penyakit yang dia
alami tidak kunjung sembuh.
“Saya
juga mengalami sariawan di mulut yang tidak sembuh-sembuh, bahkan ada semacam
luka di tenggorokan yang membuat saya tidak bisa menelan, hampir satu minggu
saya tidak bisa makan. Karena kondisi yang semakin memburuk akhirnya saya
dirawat,” ujar Gareng. Melihat kondisi Gareng yang semakin ‘drop’ , dokter
mulai curiga ada dindikasi HIV, maka dia disarankan untuk tes HIV, dan hasilnya
positif.
Bangkit dan Berkarya
Diskriminasi
pertama yang dialami Gareng sebagai pengidap HIV/AIDS waktu itu justru dari
orang terdekat, yaitu istrinya. Hari itu
dia divonis HIV, dan hari itu juga istrinya meminta cerai darinya. Saat
Gareng membutuhkan uluran tangan orang-orang yang dia cintai untuk merangkul
dan memberinya semangat untuk bertahan hidup, tapi saat itu pula dia menerima
kenyataan dicampakkan sendirian. Tidak
ada yang menemaninya saat jatuh, tidak ada yang merawatnya saat sakit, hanya
perawat-perawat berbaju putih yang setiap hari menyapa dan mengantarkan obat
untuknya.
Gareng
mampu bangkit setelah berkumpul dan bertemu dengan teman-teman ODHA di Yayasan
Pelita Ilmu. Disana, mereka saling menguatkan dan mengingatkan untuk terus
hidup sehat agar bisa bekerja, mandiri, dan bermanfaat bagi orang lain. Pada
2012, Gareng berpikir untuk melakukan tes HIV kepada anaknya, tapi saat
berkonsultasi kepada dokter, dia disarankan untuk mengetes mantan istrinya
terlebih dahulu sebab jika ibu negatif, maka anak juga akan negatif karena tidak terjadi
interaksi dan kontak yang menyebabkan risiko penularan . “Alhamdulillah mantan
istri saya negatif berarti anak saya negatif, jadi tidak perlu di tes. “
Hasil
negatif , terutama pada anaknya memberi
semangat tersendiri untuk Gareng. Dia memutuskan menerima seluruh masa lalunya
dan menjadikannya sebagai pembelajaran, tidak hanya untuk dirinya, tapi juga
untuk orang lain. Bagi Gareng, semua orang memiliki masa lalu, tapi setiap orang juga memiliki masa depan. “Belajar
dari masa lalu itu penting, tapi belajar menghadapi masa depan itu yang
terpenting,” tutur Gareng.
Dengan
tekad yang kuat dan kesiapan mental yang matang, Gareng memutuskan untuk
membuka statusnya kepada seluruh masyarakat, dan pada 7 November 2015, Gareng
memulai Ekspedisi Langkah Kaki Jelajah Negeri. Dia menjalankan misi mulia untuk
menyosialisasikan pencegahan HIV, dan mengedukasi masyarakat tentang HIV/AIDS
agar mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap penderita HIV. “HIV itu bukan akhir dari hidup kita, hidup
kita berakhir manakala semangat kita sudah padam. Saya ingin menunjukkan kepada
masyarakat bahwa orang yang terinfeksi HIV juga bisa hidup sehat, mandiri,
berkarya dan berprestasi. Jadi, jauhi virusnya, jangan orangnya,” kata Gareng.
Jalan Kaki Keliling 33 Provinsi
Tekad
Gareng untuk berjalan kaki keliling Indonesia mengampanyekan pencegahan
penularan HIV mendapat dukungan dari banyak pihak. Gareng memilih tanggal 7
November sebagai awal ekspedisi karena hari tersebut merupakan hari spesial baginya. “Tanggal 7
November itu hari kelahiran saya,” katanya sambil tersenyum. Gareng berjalan
kaki dengan membopong ransel di punggungnya. Dia menyematkan satu bendera merah
putih kecil di dekat ransel sebagai simbol ekpedisi jelajah negeri yang dia
lakukan.
Pemuda usia 32 tahun itu memulai langkahnya dari Jakarta menuju Jawa
Barat, dilanjutkan ke Jawa Tengah, Yogyakarta,
Jawa Timur, Bali, lalu berputar ke Papua Nugini, Maluku Utara, Sulawesi
Utara, dan baru memasuki Sumatera. Gareng tiba di Bandar Lampung pada Rabu
(5/9). “Saya masuk ke Bandar Lampung
dari Bangka Belitung. Untuk Sumatera, semua provinsi saya kunjungi, kecuali
Bangkulu, karena paling pojok, sementara saya harus menyelesaikan ekspedisi ini
tepat pada 7 November 2017 di Jakarta,” tuturnya.
Pengalaman Haru Biru
Selama
seminggu di Bandar Lampung, Gareng melakukan banyak kegiatan kampanye dan
edukasi tentang HIV/AIDS kepada masyarakat. Gareng berkumpul bersama para awak
media yang bergabung dalam Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Lampung, bertemu
Gubernur Lampung, menyambangi
teman-teman di komunitas ODHA, didampingi pihak Dinas Kesehatan Provinsi
Lampung melakukan talkshow ke Radio SAI 100 FM, di hari terakhir melakukan diskusi inspiratif dengan ratusan
mahasiswa Universitas Malahayati.
Di
setiap provinsi, Gareng berusaha menemui sahabat-sahabat ODHA untuk memberi
semangat dan motivasi. Gareng menekankan, ODHA memiliki dua tanggungjawab yaitu
sehat untuk diri sendiri karena dengan sehat maka pengidap HIV bisa bekerja dan
mandiri. Kedua, tanggung jawab moral untuk tidak menularkan virus HIV kepada
siapa pun. “Saya sarankan, bagi sahabat-sahabat saya yang hasilnya negatif,
pertahankan bagaimana selamanya negatif, tapi kalau positif ada dua
tanggungjawab, sehat untuk diri sendiri
dan tidak menularkan virus kepada orang lain,” tutur Gareng.
Pemuda
berhidung mancung ini juga berbagi pengalaman selama melakukan ekpedisi jalan
kaki menjelajahi 33 provinsi. Dia
mengaku salah salah satu pengalaman yang membuatnya terharu adalah saat
melakukan ekspedisi di Palembang. Gareng sengaja mengatur strategi bagaimana
caranya agar bisa tiba di Palembang tepat saat perayaan 17 Agustus. Dia
berjalan dari Banyu Asin membawa bendera besar sendirian. “Alhamdulillah sangat
luar biasa respon dari masyarakat Palembang, saya diberi makan, diberi minum,
disuruh mampir, bahkan diberi duit oleh polisi dan tentara. Mereka semua tahu
status saya (HIV), tapi tidak ada jarak diantara kami,” kata Gareng antusias.
Namun,
lanjutnya, dia juga kerap melihat sikap diskriminatif masyarakat terhadap
penderita HIV. Pernah suatu hari, dia diundang menjadi pembicara pada pertemuan
tentang pencegahan HIV/AIDS. Sebelum Gareng tampil, seorang bapak menyarankan
untuk mengusir dan mengkarantina penderita HIV. Ketika tiba waktunya Gareng
untuk menyampaikan sosialisasi tentang HIV, dia maju dan menyalami bapak
tersebut, lalu membuka statusnya. “Kalau
HIV bisa menular dengan salaman, maka bapak sudah kena, silahkan usir saya.
Disitu akhirnya masyarakat mengerti bahwa penderita HIV juga bisa hidup sehat
dan bermanfaat,” katanya.
Selesai
di Bandar Lampung, pada Rabu (12/9), Gareng mulai berjalan kaki menuju
Kalianda, Lampung Selatan dari Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Lampung. Dia
dilepas oleh pihak dinas, sahabat ODHA, dan rekan-rekan wartawan. Tubuh Gareng
boleh lelah berjalan, tapi semangat Gareng tidak akan pernah pudar untuk terus
menggelorakan pencegahan HIV di tengah masyarakat. Bahkan, Gareng telah
meninggalkan jejak tapaknya di setiap provinsi agar masyarakat ingat bahwa ODHA juga bisa berprestasi dan berbuat untuk
kebaikan negeri!
(RINDA
MULYANI)

2 komentar
Kerennn mba... Makin moncer
Makasih Tri Jarwo, kisah hidup mas Gareng yang menggugah...
EmoticonEmoticon