Kementrian
Kesehatan mencatat sekitar 37,2% atau 9 juta anak di Indonesia mengalami
stuting atau gagal tumbuh sehingga
tinggi anak dibawah standar. Dokter Marina Danajanti , MKM dari Kementrian Kesehatan
mengatakan stuting merupakan gagal
tumbuh pada anak yang menyebabkan tinggi anak dibawah standar atau cebol.
![]() |
| Dokter Marina Danajanti, MKM menyampaikan materi tentang penyebab stuting pada anak. |
Marina
menjelaskan, stuting pada anak
dipengaruhi oleh 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) anak yaitu 270 hari pertama
dalam kandungan ditambah 2 tahun
kehidupan anak setelah dilahirkan. “Ini menjadi masa emas dan kritis
pertumbuhan anak. Jika janin dan bayi mendapatkan nutrisi sempurna, maka akan
tumbuh sehat dengan kualitas SDM yang baik,” ujar Marina.
Namun,
lanjutnya, jika di masa itu tidak dilalui dengan baik, maka anak akan beresiko
stunting. Dia menjelaskan, beberapa hal yang menyebabkan anak tumbuh stunting yaitu
kehamilan kurang gizi, ibu kurus, atau
janin terkena infeksi. “Bagaimana cara mencegah masalah stuting ini? Ibu-ibu
harus rajin ke posyandu, pantau perkembangan berat badan anak. Jika ditemukan
penurunan berat badan, maka harus dilakukan intervensi melalui suplemen atau
makanan penambahan gizi. Di posyandu itu, kuncinya di meja 5, apa di meja 5? Edukasi.
Namun, justru ini yang jarang dilakukan di lapangan, edukasi kesehatan kepada
para ibu sangat penting,” tuturnya.
Selain
edukasi, peran masyarakat juga sangat
penting untuk saling mengingatkan tentang gizi anak. “Jadi kalau kita melihat
ada anak yang lebih pendek dari umumnya, baik di posyandu, sekolah, pengajian, atau dimana
pun, ingatkan keluarganya bahwa ada masalah dengan anaknya agar segera
dikonsultasikan ke dokter. Apakah kita berani? Karena ini merupakan
tanggungjawab kita bersama, sampaikan dengan cara yang baik kepada orangtuanya,”
kata Marina.
Dia
mengimbau ibu-ibu hamil harus menjaga asupan gizi yang cukup dan seimbang, melakukan inisisasi ASI dini pada bayi, memberikan
ASI eksklusif selama enam bulan, berikan ASI selama dua tahun, serta berikan
makanan bergizi seimbang sesuai kebutuhan dan usia anak. “Ibu hamil anemia,
kurus dan kurang gizi masih banyak di Indonesia, dan ini menyebabkan anak lahir
dengan berat badan rendah yang beresiko stunting,” tuturnya.
(RINDA
MULYANI)

EmoticonEmoticon