Gadis muda berjilbab itu mendekati salah satu penghuni Rumah Singgah
Komunitas Peduli Lampung di Jalan Sam Ratulangi
Nomor 64, Penengahan, Tanjungkarang Pusat, Bandar Lampung. Tanpa sungkan, dia
duduk di depan bayi penderita hidrosepalus, M Kahfi yang masih berusia 9 bulan
mengompres kening dan ketiak Kahfi. Sri Rahayu nama gadis muda tersebut. Dia
adalah calon bidan yang sudah dua tahun ini bergabung menjadi sukarelawan
Komunitas Peduli Generasi Lampung.
“Ini tubuh Kahfi sudah
agak mendingan, sudah tidak terlalu panas, terus dikompres ya Bu, obatnya
jangan lupa dikasih sesuai jadwal yang dikasih tahu dokter,” ujar Sri Rahayu
kepada orangtua pasien hidrosepalus, Rinjani, Selasa (25/8/2017). Sri Rahayu
yang kini masih menempuh studi akhir di salah satu pendidikan kebidanan di
Bandar Lampung itu juga mendatangi dua pasien lain yang menginap di rumah
singgah. Ada pasien gagal ginjal, Suyanto asal Lampung Utara, dan pasien
Stevens-Johnson Syndrome (SJS) dengan seluruh tubuh melepuh seperti luka bakar.
![]() |
| Sukarelawan Komunitas Peduli Generasi Lampung, Sri Rahayu. |
Sri Rahayu mengatakan,
Rumah Singgah ini didirikan oleh seorang pengusaha yang peduli dengan kondisi
masyarakat miskin di Lampung. Menurutnya, walaupun masyarakat miskin sudah
tercover oleh BPJS Kesehatan, tapi tetap saja mereka kesulitan untuk memenuhi
biaya hidup dan biaya transportasi selama berobat ke Rumah Sakit di Ibukota
Provinsi.
“Jadi yang ditampung
di Rumah Singgah ini khusus pasien BPJS Kesehatan kelas III yang tinggal di
luar Bandar Lampung, seperti dari Lampung Utara, Lampung Selatan, dan
Tanggamus,” ujarnya. Rumah singgah ini juga sering didatangi pasien miskin yang
belum tercover BPJS Kesehatan, dan para relawan mengarahkan keluarga pasien
untuk mengurus BPJS Kesehatan, sedangkan pasien akan didampingi untuk berobat
mulai dari puskesmas atau fasilitas primer hingga rujukan ke rumah sakit tipe
C, B dan A. Rumah singgah ini tidak hanya ada di Bandar Lampung, tapi juga
sudah memiliki cabang di Jakarta. “Jadi kalau ada yang dirujuk ke rumah sakit
tipe A di Jakarta, bisa langsung ditampung di rumah singgah Komunitas Peduli
Generasi Lampung cabang Jakarta,” tuturnya.
Berharap
Semakin Banyak Dermawan
Rumah singgah di
Bandar Lampung ini berupa bangunan dua lantai dengan tiga kamar tidur untuk
pasien. Para sukarelawan rumah singgah tersebut sebagian besar merupakan
mahasiswa bidang kesehatan yang ada di Provinsi Lampung. Disini, mereka belajar
mengabdi berupaya memberi arti.
Di rumah singgah ini,
pasien menginap gratis, pasien hanya membayar Rp5.000 per hari untuk kebutuhan
lauk dan sayur pasien tersebut. Sedangkan beras disediakan oleh rumah singgah.
Siang itu, beberapa keluarga pasien sedang menumis sayur dan menggoreng tempe
di dapur rumah singgah tersebut. Di halaman belakang dapur juga terdapat
tanaman sayur hidroponik yang dapat dipetik dan diolah oleh pasien.
Sambil berjalan
menunjukkan suasana dapur, Sri Rahayu menjelaskan sebagai besar pasien yang
ditampung di rumah singgah memiliki penyakit berat, seperti jantung, kanker,
hidrosepalus, dan gagal ginjal. Dia mengaku, rumah singgah ini kerap terpaksa
menolak pasien miskin karena sudah penuh. Dia berharap, semakin banyak
masyarakat yang tergerak untuk melakukan hal yang sama dengan membangun rumah
singgah bagi pasien miskin.
“Karena biaya hidup
dan transpotasi bolak-balik berobat itu cukup besar, sampai jutaan, kasihan
pasien-pasien miskin yang terkadang harus berutang untuk memenuhi biaya hidup
selama berobat,” ujarnya. Padahal, lanjutnya, penyakit yang didera membutuhkan
terapi pengobatan yang lama bahkan ada yang harus menjalani terapi seumur
hidup. “Ya, semoga pemerintah daerah mau memenuhi semua fasilitas yang
dibutuhkan masyarakat, dan semakin banyak para dermawan yang tergerak membantu
pasien miskin, minimal yang ada di lingkungan sekitar mereka,” lirih suara Sri
Rahayu seperti selarik doa.
(Rinda Mulyani)

EmoticonEmoticon