Seorang
pelayan muda berbusana rapi datang membawa pesanan kami. Tangannya memegang
erat panci stainless steel lengkap dengan alat pemanasnya. Aroma pindang
menyeruak ke hidung kami. Hmmm,
benar-benar menggugah selera. Saat diletakkan diatas meja, kami agak suprise, tidak menyangka pindang kepala
simba memenuhi panci yang selalu dijaga tetap panas itu.
“Ini
menu pesanannya mas, ada yang mau ditambah pesanannya,” tanya sang pelayan
Rumah Makan Pindang Ika, di Jalan Hurun, Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, Lampung,
Jumat (25/8/2017). “Cukup ini dulu mas,” ujar suamiku karena melihat porsi
besar pindang kepala simba yang cukup jika dikonsumsi untuk empat orang dewasa.
Sementara, kami hanya bertiga dengan anak kami yang masih kelas 4 SD.
Kami
pikir, menu pindang ini disajikan tunggal, ternyata si pelayan datang lagi
sambil membawa menu pelengkap berupa sayur urap, sambal terung campur ikan asin,
dan lalapan, ada kemangi, terung hijau, dan ada petai rebus yang menjadi salah
satu lalapan kesukaan suamiku. Mantap! Tidak sabar, kami mulai menyendok nasi
dan menyiapkan di piring masing-masing. Tidak perlu berebut mengambil lauk
pidang kepala simba, dijamin cukup!
Baca juga : Tradisi Malamang yang Mulai Hilang
![]() |
| Sajian menu pindang kepala simba di Rumah Makan Pindang Ika, Padang Cermin,Pesawaran. |
Baca juga : Tradisi Malamang yang Mulai Hilang
Aku
mencicipi satu persatu menu yang disajikan. Dimulai dari pindangnya, wah
kuahnya benar-benar segar, tidak hanya bumbunya rempahnya yang kental, tapi
irisan nanas yang tebal dan taburan kemangi menjadikan kuah pindang semakin
segar. Pedasnya juga menggigit lidah. Daging kepala simbang memiliki kematangan
yang pas sehingga kesegaran ikannya masih terasa. “Kuahnya segar ya, Papa baru
ngerasain kuah pindang sesegar ini, mantap,”ujar suamiku menyeruput kuah
pindang,lalu menyuap nasi yang diselipi petai favoritnya. (Resep Pindang Kepala Simba)
Aku
mulai menjajal sayur urap yang tinggal separuh. Ternyata, suamiku juga sangat
menyukai sayuran dicampur bumbu kelapa itu. Coba secuil dulu deh. Wah,
bumbu kelapanya enak, rempahnya dan pedasnya ‘berani’. Rebusan sayur separuh
matang yang dicampur bumbu urap ini melengkapi kenikmatan makan kami sore itu.
Saat menjajal sambal terung dan ikan asin kecil yang dibaluri sambal hijau,
tanganku tak berhenti untuk mengudapnya. Hahaha,
saking enaknya, itu sambal terung dan ikan asin dikudap sampai licin!
Wisata Tak Lengkap Tanpa Kuliner
Pindang
Kami
mampir di Rumah Makan Pindang Ika yang berlokasi di pinggir jalan ini sepulang
dari wisata ke Pulau Tegal. Jika dari Bandar Lampung, rumah makan ini berada
disisi sebelah kiri jalan, sebelum Pasar Hanura, Padang Cermin, Pesawaran. Jika
diakses menggunakan mobil dari pusat kota Bandar Lampung hanya membutuhkan
waktu sekitar 30 menit. Itu, jika tidak macet. Karena pada hari-hari libur,
jalanan menjadi sangat padat dan macet. Maklum, di mulai dari daerah
Telukbetung, Bandar Lampung hingga Pesawaran memiliki banyak destinasi wisata
pantai.
![]() |
| Santap makan dilengkapi dengan minuman segar, ada air kelapa muda dan aneka juice buah. |
Nah,
bagi wisatawan yang menuju Pantai Sari Ringgung, Pantai Clara, Pantai Kelagian,
dan pantai-pantai lain hingga ke daerah Piabung pasti melewati Rumah Makan
Pindang Ika. Tidak perlu sungkan untuk mampir dan masuk mencicipi menu khas
daerah Sang Bumi Ruwa Jurai ini. Harganya terjangkau. Untuk satu porsi menu
pindang yang bisa dimakan ramai-ramai itu cukup mengeluarkan kocek Rp100 ribu
saja. Kalau makan,tanpa minum kan pasti seret ya, ada kok aneka minuman segar
yang dapat dipesan, seperti kelapa muda, anek juice buah, lemon, dan lainnya.
Baca juga : Suoh,Surga yang Tersembunyi
Baca juga : Suoh,Surga yang Tersembunyi
Suasana
di rumah makan ini sangat nyaman. Sepertinya memang didesain untuk santap
keluarga. Di tengah pondok-pondok makan terdapat kolam ikan yang jernih,
dihiasi bunga teratai putih dan merah. Juga ada ayunan yang bisa menjadi tempat
bermain untuk anak-anak atau remaja pacaran. Sore itu, ayunan ini malah dinaiki
oleh pasangan usai paruh baya, hehehe
sepertinya mereka tengah bernostalgia.
Jika
ramai, live musik mulai menghibur konsumen. Sore itu, lagu-lagu lawas tahun 1980-an mengalun. Perut
yang bengah kekeyangan ditambah elusan angin menerpa tubuh mengundang rasa
kantuk. Daripada ketiduran di pondokan rumah makan ini, lebih baik kami
tuntaskan jelajah kuliner hari ini.


EmoticonEmoticon