Showing posts with label kuliner. Show all posts
Showing posts with label kuliner. Show all posts

Monday, 11 September 2017

Susu Pasteurisasi Home Town Diary Penambah Energi

Separuh hari sudah dilalui peserta Kelas Fotografi Tapis Blogger mendengarkan materi dari Fotografer Senior Lampung Yopie Pangkey, Sabtu (9/9), di aula Taman Wisata Wira Garden, Bandar  Lampung. Sekitar pukul 13.00, saatnya para peserta hunting foto-foto indah di lokasi wisata tersebut.
Nah, setiap peserta, termasuk saya dibekali minuman bergizi Susu Sapi Murni Pasteurisasi, Home Town Diary. Susu botol ukuran 1 liter ini dibagikan satu persatu kepada peserta lengkap dengan tas kain yang dilapisi aluminium foil. Tas ini mampu menjaga suhu susu murni yang baru saja dikeluarkan dari lemari pendingin sekitar dua hingga tiga jam. Agar berumur panjang, susu murni pasteurisasi harus disimpan pada suhu 4—10 derajat celcius. Jika segel sudah dibuka, maka susu harus dihabiskan secepatnya.

Susu murni Home Town Diary dilengkapi dengan kemasan penjaga suhu.
     Saya dan rekan saya,Tri Sudjarwo Songha menenteng tas kain hitam bermerek Susu Pasteurisasi Home Town Diary hingga ke lokasi sungai  di bagian lembah Wira Garden. Perjalanan menuruni tangga yang cukup panjang sangat melelahkan. “Aduh, benar-benar capek turun sampai ke bawah untuk hunting foto. Untung tadi bawa susu murni ini, masih dingin lagi. Ayo kita buka aja, minum dulu, biar segar dan berenergi lagi,” ujar saya. Akhirnya, kami duduk di salah satu anak tangga dan membuka segel botol susu. Glek, glek, glek. Benar-benar segar membasahi tenggorokan saya yang sudah kering karena turun naik anak tangga. Rasanya nikmat, tidak ada bau amis sapi sama sekali. Saya baru kali ini menikmati susu murni yang benar-benar segar dan pas di lidah.
     Saya paling suka meminum susu sapi murni. Kenapa? Karena gizinya lebih terjamin, tidak ada campuran pemanis, pewarna dan perasa. Kemasan pada botol susu berisi informasi tentang susu Home Town Diary. Susu segar ini berasal dari 100% susu sapi. Diperah dari sapi perah berkualitas tinggi yaitu sapi New Zealand yang diproduksi oleh Great Giant Livestock (GGLC)  di Terbanggi Besar, Lampung Tengah. 
    Biar nggak penasaran, saya googling nih nilai gizi pada susu sapi murni. Setiap 100 gram susu sapi mengandung 70,5 kilokalori;  3,4 gram protein;  3,7 gram lemak; dan 125 miligram kalsium. Dalam susu juga terdapat vitamin B2 dan vitamin A. Tubuh manusia mampu menyerap zat gizi pada susu murni ini 98% hingga 100%.  

Susu murni Home Town Diary benar-benar segar di tenggorokan.
     Meminum secara rutin susu sapi tidak hanya menambah energi dan meningkatkan daya tahan tubuh, tapi susu sapi juga dapat mendorong hormon kegembiraan karena mengandung tyrosine. Bahkan, bagi perempuan yang ingin cantik dianjurkan meminum secara rutin susu sapi karena zat besi dan vitamin A dapat mempertahankan kulit bersinar.  Bagi Anda yang insomnia (sulit tidur), ada baiknya meminum segelas susu sapi murni, ini dapat membantu Anda tidur lelap. 
     Tuh, banyak sekali kan manfaat minum susu sapi? Susu murni Home Town Diary ini bisa didapatkan di Supermarket Gelael dan Chandra Superstore di Bandar Lampung dengan harga sekitar Rp35 ribu untuk ukuran 1 liter. Jika ingin mendapatkan harga yang lebih murah dapat langsung mendatangi perusahaan GGLC di Terbanggi Besar KM. 77, Lampung Tengah, atau di Perumahan Vila Citra I Blog G, No. 12A, Bandar Lampung. 
     Atau, berminat menjadi reseller? Anda bisa langsung menghubungi 0721 5600 497/498. Atau, kepo-in instagramnya @hometwondairy.id , dan wa ke nomor  0821 7741 7271 dan 0821 7741 7320. Bagi yang ingin menjadi reseller, pemesanan minimal 3 liter. Susu pasteurisasi Home Town Diary ini juga tersedia dalam berbagai kemasan dan variasi harga, yaitu untuk kemasan pelastik 220 ml dijual dengan harga Rp5000, kemasan pelastik 500 ml Rp10.000,  lalu kemasan pelastik 1 liter Rp20.000. Juga ada kemasan botol 1 liter dengan harga Rp25.000, serta kemasan botol 2 liter Rp45.000. Susu Home Town Diary ini juga bisa didapatkan di Bandung.



(RINDA MULYANI)

Thursday, 31 August 2017

Tradisi Malamang yang Mulai Hilang

DUDUK di pematang sawah di kampung halamanku, Pasaman, Sumatera Barat, satu hari menjelang lebaran Idul Fitri, 24 Juni 2017,  mengembalikan ingatanku pada kenangan tiga puluh tahun silam. Ketika itu usiaku 7 tahun, aku ikut sibuk menyorongkan kayu-kayu yang mulai habis terbakar mendekati kumpulan bara api agar puluhan lamang yang bersandar di tiang besi matang sempurna. Percik bunga api kerap mengenai tangan dan wajahku, terasa sensasi panas, tapi segera hilang saat aku tepis dengan tangan.

Malamang.
Sementara, para ibu yang ikut malamang menjelang Idul Fitri di masa itu sibuk menyanduk santan dan memasukkan ke dalam buluh-buluh lamang yang mulai kering. Sebagian besar ibu-ibu ini berkain sarung dan menggunakan songkok kepala. Ada juga yang bertugas memutar-mutar lamang agar tidak matang sebelah atau malah gosong separuh.

Baca juga : Resep Membuat Lemang Ketan Putih

Pernah aku nekad mencoba memegang buluh lemang yang sedang dibakar, dan segera kutarik tanganku karena panas yang amat sangat. Pantas saja, sebelum memegang buluh lamang menggunakan kain, ibu tersebut menyelupkan kain terlebih dulu ke air kemudian meremasnya. Kain basah inilah yang digunakan untuk memegang dan membalik-balik lamang.
Ahhh, itu adalah pertama dan satu-satunya pengalamanku tentang malamang. Selebihnya, aku lebih banyak menikmati memakan lamang pada setiap acara pernikahan, Maulid Nabi, Lebaran Idul Fitri, atau Idul Adha. Namun, ingatan itu juga yang memberi kesan mendalam kepada diriku hingga saat ini. Ada kerinduan untuk merasakan kebersamaan dan suasana malamang.

Memadukan bahan-bahan lamang.
 Kerinduan itu aku tuntaskan dengan mengajak keluarga adikku, dan kakakku untuk malamang untuk sajian pada hari raya Idul Fitri 1438 Hijriyah pada 25 Juni 2017. Maklum, aku hanya bisa pulang kampung tiga tahun sekali merayakan lebaran bersama keluarga besar di Pasaman karena aku bersama keluarga kecilku tinggal di Bandar Lampung, Lampung. Ada keinginan kuat di hatiku untuk memberikan pengalaman batin yang sama kepada anak dan keponakanku. 
Aku ajak mereka ikut serta dalam proses menyiapkan bahan-bahan lemang seperti ketan putih, santan kental, garam, bawang putih, dan pisang. Sedangkan buluh bambu dan daun pisang disediakan oleh mertua adikku. Hehehe, sejatinya aku juga ingin belajar malamang dengan tetua yang telah berpengalaman memasak menu penganan khas masyarakat minang kabau ini. 

Memasukkan ketan putih ke dalam buluh lemang.

Syekh Burhanuddin
Selama malamang itu, aku bertanya banyak kepada ibu mertua adikku yang akrab aku sapa Amak. Menurut dia, saat ini sudah sedikit masyarakat yang melakukan tradisi malamang karena lamang sudah banyak dijual di pasaran. “Ma amuah ibuk-ibuk kini ko malamang surang Nda. Latiah, angek, lamo mamasak nyo mah. Kalau ibuk-ibuk kini nyo pai ka pasa, tu tingga di bali nyo se lai lamang, banyak urang manjua lamang di pasa mah (mana mau ibu-ibu zaman sekarang malamang Nda. Lelah, panas, lama memasaknya. Kalau ibu-ibu zaman sekarang tinggal pergi ke pasar,lalu dibelinya lemang, banyak orang menjual lamang di pasar),” katanya.
Amak juga mengisahkan  bahwa kegiatan malamang ini dulunya dihidupkan oleh Syekh Burhanuddin yang menyebarkan ajaran Islam di ranah minang. Saat itu, Syekh Burhanuddin bertamu dan bersilaturahmi ke rumah-rumah penduduk, dan dia disambut dengan jamuan makanan masyarakat kala itu. 

Menyiapkan buluh lemang.
“Tapi, Syekh Burhanuddin ko ragu jo makanan nan disajian masyarakat waktu itu, ntah kok lai halal atau indak, soale kan waktu itu banyak nan alun paham agamo lai (Tapi, Syekh Burhanuddin ragu pada makanan yang disajikan masyarakat waktu itu, apakah halal atau tidak karena saat itu belum banyak masyarakat yang paham dengan ajaran agama Islam),” tutur Amak menjelaskan sejarah malamang tersebut.
Untuk itu, lanjutnya, Syekh Burhanuddin menyarankan kepada penduduk untuk mencari bambu dan mengalasi bagian dalamnya dengan daun pisang muda. Setelah itu, buluh bambu tersebut diisi dengan beras ketan putih dan santan, kemudian di bakar menggunakan arang kayu. 
“Nah, sajak itulah urang minang rutin malang untuk disajikan dalam pengajian basamo Syekh Burhanuddin. Lamo-lamo, lamang ko manjadi makanan simbol silaturahmi urang minang, jadi satiok acara adat, baralek, atau hari rayo,ibuk-ibuk zaman dulu pasti malamang basamo,” kata Amak sambil membolak-balik lamang yang mulai matang.

Bemain di sawah dan membuat puput dari batang padi.
Alhamdulillah, kerinduanku dengan tradisi malamang lepas sudah. Selama malamang,aku juga mengajak anak dan keponakanku membuat puput dari batang padi. Sore harinya, tiga belas lemang tersedia di depan kami, lima lemang putih dan delapan lemang pisang. Ini menjadi salah satu menu untuk menyambut tamu di hari lebaran.


(RINDA MULYANI)

Wednesday, 30 August 2017

Pindang Kepala Simba RM IKA Mengigit Dilidah

Seorang pelayan muda berbusana rapi datang membawa pesanan kami. Tangannya memegang erat panci stainless steel lengkap dengan alat pemanasnya. Aroma pindang menyeruak ke hidung kami. Hmmm, benar-benar menggugah selera. Saat diletakkan diatas meja, kami agak suprise, tidak menyangka pindang kepala simba memenuhi panci yang selalu dijaga tetap panas itu.
“Ini menu pesanannya mas, ada yang mau ditambah pesanannya,” tanya sang pelayan Rumah Makan Pindang Ika, di Jalan Hurun, Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, Lampung, Jumat (25/8/2017). “Cukup ini dulu mas,” ujar suamiku karena melihat porsi besar pindang kepala simba yang cukup jika dikonsumsi untuk empat orang dewasa. Sementara, kami hanya bertiga dengan anak kami yang masih kelas 4 SD.

Sajian menu pindang kepala simba di Rumah Makan Pindang Ika, Padang Cermin,Pesawaran.
  Kami pikir, menu pindang ini disajikan tunggal, ternyata si pelayan datang lagi sambil membawa menu pelengkap berupa sayur urap, sambal terung campur ikan asin, dan lalapan, ada kemangi, terung hijau, dan ada petai rebus yang menjadi salah satu lalapan kesukaan suamiku. Mantap! Tidak sabar, kami mulai menyendok nasi dan menyiapkan di piring masing-masing. Tidak perlu berebut mengambil lauk pidang kepala simba, dijamin cukup!

 Baca juga : Tradisi Malamang yang Mulai Hilang 
 
Aku mencicipi satu persatu menu yang disajikan. Dimulai dari pindangnya, wah kuahnya benar-benar segar, tidak hanya bumbunya rempahnya yang kental, tapi irisan nanas yang tebal dan taburan kemangi menjadikan kuah pindang semakin segar. Pedasnya juga menggigit lidah. Daging kepala simbang memiliki kematangan yang pas sehingga kesegaran ikannya masih terasa. “Kuahnya segar ya, Papa baru ngerasain kuah pindang sesegar ini, mantap,”ujar suamiku menyeruput kuah pindang,lalu menyuap nasi yang diselipi petai favoritnya. (Resep Pindang Kepala Simba)
Aku mulai menjajal sayur urap yang tinggal separuh. Ternyata, suamiku juga sangat menyukai sayuran dicampur bumbu kelapa itu. Coba secuil dulu deh. Wah, bumbu kelapanya enak, rempahnya dan pedasnya ‘berani’. Rebusan sayur separuh matang yang dicampur bumbu urap ini melengkapi kenikmatan makan kami sore itu. Saat menjajal sambal terung dan ikan asin kecil yang dibaluri sambal hijau, tanganku tak berhenti untuk mengudapnya. Hahaha, saking enaknya, itu sambal terung dan ikan asin dikudap sampai licin!

Wisata Tak Lengkap Tanpa Kuliner Pindang
Kami mampir di Rumah Makan Pindang Ika yang berlokasi di pinggir jalan ini sepulang dari wisata ke Pulau Tegal. Jika dari Bandar Lampung, rumah makan ini berada disisi sebelah kiri jalan, sebelum Pasar Hanura, Padang Cermin, Pesawaran. Jika diakses menggunakan mobil dari pusat kota Bandar Lampung hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Itu, jika tidak macet. Karena pada hari-hari libur, jalanan menjadi sangat padat dan macet. Maklum, di mulai dari daerah Telukbetung, Bandar Lampung hingga Pesawaran memiliki banyak destinasi wisata pantai.
Santap makan dilengkapi dengan minuman segar, ada air kelapa muda dan aneka juice buah.
 Nah, bagi wisatawan yang menuju Pantai Sari Ringgung, Pantai Clara, Pantai Kelagian, dan pantai-pantai lain hingga ke daerah Piabung pasti melewati Rumah Makan Pindang Ika. Tidak perlu sungkan untuk mampir dan masuk mencicipi menu khas daerah Sang Bumi Ruwa Jurai ini. Harganya terjangkau. Untuk satu porsi menu pindang yang bisa dimakan ramai-ramai itu cukup mengeluarkan kocek Rp100 ribu saja. Kalau makan,tanpa minum kan pasti seret ya, ada kok aneka minuman segar yang dapat dipesan, seperti kelapa muda, anek juice buah, lemon, dan lainnya. 

Baca juga : Suoh,Surga yang Tersembunyi 
   
Suasana di rumah makan ini sangat nyaman. Sepertinya memang didesain untuk santap keluarga. Di tengah pondok-pondok makan terdapat kolam ikan yang jernih, dihiasi bunga teratai putih dan merah. Juga ada ayunan yang bisa menjadi tempat bermain untuk anak-anak atau remaja pacaran. Sore itu, ayunan ini malah dinaiki oleh pasangan usai paruh baya, hehehe sepertinya mereka tengah bernostalgia.
Jika ramai, live musik mulai menghibur konsumen. Sore itu,  lagu-lagu lawas tahun 1980-an mengalun. Perut yang bengah kekeyangan ditambah elusan angin menerpa tubuh mengundang rasa kantuk. Daripada ketiduran di pondokan rumah makan ini, lebih baik kami tuntaskan jelajah kuliner hari ini.

(RINDA MULYANI)