LELAKI tua itu duduk di pinggir kasur
tipis rumah singgah Komunitas Peduli Generasi Lampung, Bandar Lampung, Jumat
(25/8/2017). Separuh bola matanya ditutupi oleh lemak putih kekuningan, tapi
masih mampu menangkap wajah lawan bicaranya. “Saya ini bingung lo mbak, saya
pengen sembuh, capek sakit begini. Kasihan juga sama ibunya anak-anak, di
kampung sendirian ngurus kebon karena saya harus berobat disini,” ujar Suyanto
yang terpaksa meninggalkan keluarganya di Kotabumi, Lampung Utara karena harus
cuci darah dua kali seminggu.
![]() |
| Pasien gagal ginjal, Suyanto saat ditemui di Rumah Singgah Komunitas Peduli Generasi Lampung, Bandar Lampung, Jumat (25/8/2017). |
Suyanto divonis dokter mengalami gagal ginjal dua bulan lalu. Menurutnya,
setiap mengalami pegal atau sakit pinggang, dia memilih minum obat-obatan warung.
Sampai akhirnya, pada Ramadan lalu, Suyanto mengalami muntah-muntah, tidak
nafsu makan, dan demam tinggi. “Diperiksa sama dokter di rumah sakit Kotabumi,
katanya maag, ya udah saya dikasih obat maag, eh akhirnya malah parah dan
kritis, dirujuk ke Rumah Sakit Abdul Moeloek, kata dokternya komplikasi ada
jantung, paru-paru dan gagal ginjal. Ya, gara-gara minum obat sembarangan itu,”
ujar Suyanto.
Awalnya Suyanto bolak-balik dari Kotabumi ke Bandar Lampung untuk melakukan
cuci darah. Saat antri, dia duduk-duduk di teras Rumah Sakit Abdul Moeloek.
Saat itulah Suyanto diajakn oleh tukang sapu rumah sakit untuk tinggal di rumah
singgah Komunitas Peduli Generasi Lampung. “Saya dikasih tahu Bapak nggak usah bolak-balik ke rumah sakit, kasihan kan
ongkosnya besar, jadi saya diantar ke rumah singgah ini. Ya, benar, akhirnya
saya tidak bolak-balik, tidur disini, dua kali semingu cuci darah, jadi lebih
hemat,” tuturnya.
Baca juga : Kesabaran Rinjani Merawat Bayi Hidrosepalus
Baca juga : Kesabaran Rinjani Merawat Bayi Hidrosepalus
Menurut Suyanto, walaupun dia berobat gratis menggunakan kartu JKN-KIS yang
preminya dibayarkan oleh pemerintah, tapi tetap saja mengeluarkan biaya untuk
transportasi dan biaya hidup selama berobat di rumah sakit. “Alhamdulillah
diajak kesini, dulu itu sebulan saya habis Rp2 juta mbak, aduh biaya besar
untuk ongkos sama makan. Kalau sekarang kan nggak lagi, sehari cuma bayar
Rp.5.000 untuk beli sayur sendiri, nasi sudah disediakan disini,” ujarnya
dengan wajah sumringah.
Sejenak, Suyanto diam dan menarik nafas panjang. Beberapa kali Suyanto mengungkapkan
keinginannya untuk segera sembuh. Apalagi, dia hanya sendiri di rumah singgah
tersebut tanpa pendamping. Istrinya harus mengurus kebun, sedangkan anaknya
bersekolah. “Anak saya masih sekolah, SMA, jadi nggak bisa diganggu,” kata dia.

EmoticonEmoticon