![]() |
| Bersiap menuju spot snorkeling dari pinggir pantai Pulau Tegal, Desa Gebang, Pesawaran, Lampung. |
“Ayo shalat subuh, setelah itu makan, jam 8 kita snorkling ke Batu Putih,” ujar Ketua Sukarelawan Peduli Pendidikan Pulau Tegal (SP3T) Lampung, Uniroh Utami menyapa para traveler Rumah Zakat dan tim yang ikut dalam kegiatan hari itu.
Uniroh sendiri sudah
bersiap menggunakan baju kaos dan celana kaos panjang lengkap dengan hijabnya. Dia mengajak salah satu anak
didiknya, Riski, untuk menghitung jumlah pelampung dan alat snorkeling yang
sudah disewa untuk kebutuhan menikmati keindahan bawah laut Pulau Tegal
seharian nanti.
“Tadi Ibu sewa 30 pelampung dan 30 alat snorkeling, cukup nggak Ki? Kalau udah lengkap semua, naikkin ke perahu ya Ki,” ujar Uniroh kepada Riski yang kerap menjadi asisten pribadinya melayani sukarelawan atau wisatawan yang berkunjung ke Pulau Tegal.
“Tadi Ibu sewa 30 pelampung dan 30 alat snorkeling, cukup nggak Ki? Kalau udah lengkap semua, naikkin ke perahu ya Ki,” ujar Uniroh kepada Riski yang kerap menjadi asisten pribadinya melayani sukarelawan atau wisatawan yang berkunjung ke Pulau Tegal.
“Iya Bu, siap,” ujar
Riski yang langsung membopong beberapa pelampung yang ada di atas Rumah Baca
menuju tiga kapal kecil yang tertambat di pinggir pulau. Melihat Riski dan
Uniroh mulai berkemas, beberapa pemuda dari Rumah Zakat, termasuk saya yang
ikut rombongan wartawan membantu membawa peralatan snorkeling tersebut.
Pada liputan kali ini, saya mengajak suami dan anak, tujuannya agar anak saya ikut belajar tentang kehidupan anak-anak di Pulau. Nah, wisata melihat keindahan bawah laut Pulau Tegal ini adalah bonus setelah seharian melihat proses pendidikan dan rehabilitasi Rumah Belajar di Pulau Tegal yang dilakukan tim SP3T , Rumah Zakat , Lazdai, dan para Marinir Yon 9 Brigif 3 Piabung.
Pada liputan kali ini, saya mengajak suami dan anak, tujuannya agar anak saya ikut belajar tentang kehidupan anak-anak di Pulau. Nah, wisata melihat keindahan bawah laut Pulau Tegal ini adalah bonus setelah seharian melihat proses pendidikan dan rehabilitasi Rumah Belajar di Pulau Tegal yang dilakukan tim SP3T , Rumah Zakat , Lazdai, dan para Marinir Yon 9 Brigif 3 Piabung.
Selayang Pandang
Pulau Tegal
![]() |
| Anak-anak Pulau Tegal mengikuti pengenalan profesi oleh mahasiswa peserta Rona Nusantara, Rumah Zakat bekerjasama dengan SP3T Lampung. |
Secara administratif,
Pulau tegal masuk dalam Desa Gebang, Kabupaten Pesawaran, Lampung. Pulau seluas
98 Hektare ini dihuni oleh 35 kepala keluarga. Rumah-rumah tersebut tersebar
secara berkelompok di beberapa sisi bagian pulau. Di lokasi Rumah Belajar Pulau
Tegal tersebut hanya ada sekitar 10 rumah penduduk, selanjutnya sekitar 500
meter menyeberangi hutan dan semak-semak baru ditemukan lagi sekitar delapa
rumah penduduk.
“Ya 35 kepala keluarga itu tidak menumpuk di satu tempat, tapi mencar-mencar. Malah rumah Ibu RT nya harus naik perahu dulu ke sisi Pulau itu,” ujar Uniroh sambil menunjuk ke arah Barat pulau.
Anak-anak di Pulau Tegal tidak bisa mengenyam pendidikan dengan layak. Ada sekitar 25 anak usia SD hingga SMA yang tidak memiliki kesempatan mengenyam pendidikan di sekolah formal. Sebagian dari anak-anak Pulau ini harus keluar pulau untuk masuk sekolah formal. Namun, itu tidak bertahan lama, sebagian besar terpaksa putus di tengah jalan karena ketiadaan biaya dan ikut bekerja mencari ikan bersama orangtua mereka.
Baca juga : Suoh, Surga yang Tersembunyi
Bertemu Nemo
“Ya 35 kepala keluarga itu tidak menumpuk di satu tempat, tapi mencar-mencar. Malah rumah Ibu RT nya harus naik perahu dulu ke sisi Pulau itu,” ujar Uniroh sambil menunjuk ke arah Barat pulau.
Anak-anak di Pulau Tegal tidak bisa mengenyam pendidikan dengan layak. Ada sekitar 25 anak usia SD hingga SMA yang tidak memiliki kesempatan mengenyam pendidikan di sekolah formal. Sebagian dari anak-anak Pulau ini harus keluar pulau untuk masuk sekolah formal. Namun, itu tidak bertahan lama, sebagian besar terpaksa putus di tengah jalan karena ketiadaan biaya dan ikut bekerja mencari ikan bersama orangtua mereka.
Baca juga : Suoh, Surga yang Tersembunyi
Kondisi inilah yang
mengunggah Uniroh yang juga Kepala SMPN 25 Pesawaran mengajak guru dan rekan
kerjanya untuk menjadi sukarelawan mengajar anak-anak di Pulau Tegal. Maka pada
September 2016 didirikanlah Sukarelawan Peduli Pendidikan Pulau Tegal (SP3T)
Lampung dengan misi anak-anak Pulau Tegal dapat menikmati pendidikan formal.
Jika awal-awal
pendirian, sekitar 25 anak usia sekolah di Pulau Tegal hanya mendapatkan
pendidikan seadanya, maka kini sudah berdiri Rumah Belajar dan tim guru relawan
yang mengajar anak-anak sesuai kurikulum dan jenjang sekolah formal. Rumah
Belajar ini berafiliasi dengan sekolah formal yang ada di Pesawaran.
Menurut Uniroh, di
Pulau Tegal terdapat tiga kelompok belajar yaitu kelas rendah bagi anak-anak
usia 1—III SD, kelas tinggi bagi anak-anak usia kelas IV—VI SD, dan SMP bagi
anak-anak usia SMP. Setiap hari ada tiga guru yang mengajar ke pulau,
pembelajaran berlagsung mulai Senin—Jumat. (berita
lampung)
Bertemu Nemo
![]() |
| Snorkeling di spot Batu Putih menyaksikan ikan badut (nemo) yang hidup di anemon karang laut. |
Bu Uniroh yang sudah hapal spot-spot snorkeling, kami dan para mahasiswa yang bergabung dalam kegiatan Rona Nusantara Rumah Zakat mempersiapkan diri di atas perahu. Aku bersama suami dan anakku, Aura Annisa Anwar Sani satu perahu dengan Bu Uniroh, dan Kapten Rizal Marinir Piabung, serta beberapa anak Pulau.
Spot pertama yang kami sambangi adalah Batu Putih. Di lokasi tersebut terdapat batu karang putih besar. Anak Pulau yang sudah terbiasa dengan air laut langsung melompat dengan gaya salto. Kami memilih turun melalui tangga kapal dan memulai petualangan menonton keindahan bawah laut Pulau Tegal.
karang di spot ini sudah mati, tapi kami terus bergerak ke depan dan akhirnya bertemu dengan karang-karang yang masih hidup. “Mama ada bintang laut biru!” teriak anakku yang baru pertamakali melakukan snorkeling.
Kami juga bertemu
dengan anemon, rumahnya di ikan badut (nemo), dan satu ekor nemo yang tinggal
di sela-sela enemon tersebut. “Ada nemo, ada nemo, ayo sini,” teriak Aura
memberi tahu peserta yang lain. Karang warna-warni dan lalu lintas gerombolan
ikan karang seakan tidak terusik dengan kehadiran kami. Tidak terasa, sudah dua
jam kami menikmati spot di Batu Putih, kelelahan mulai terasa karena tekanan
pelambung pada bagian ketiak dan dada.
Enaknya, di lokasi
ini, peserta snorkeling bisa menepi dan duduk di batu karang putih yang cukup
banyak di pinggir pantai. Berbeda dengan anak-anak Pulau, tubuh mereka seakan
tidak mengenal lelah. Kulit yang hitam terkena air garam dan sinar matahari pun
tidak membuat mereka menyerah untuk istirahat sejenak. Dari atas batu karang
putih yang cukup besar dan tinggi, mereka melompat dan salto menceburkan diri
ke laut.
Si Mungil Terumbu Karang
Sekitar pukul 11.30,
kami beranjak mencari spot lain. Bu Uniroh seperti memiliki sebuah surprise
yang ingin ditunjukkan kepada kami. Sekitar 10 menit perjalanan , perahu
menambah di pasir putih yang bersih. Bu Uniroh bergegas turun dan langsung
menuju suatu lokasi di daratan. Kami menyusul di belakang.
“Aduhh, kok gini ya, kok bunganya udah nggak ada? “ ujar Uniroh dengan kening berkerut. Menurutnya, sekitar dua bulan lalu, di lokasi tersebut menjadi habitat bunga berwarna kuning mirip bunga matahari. “Padahal bunga ini belum pernah saya temui lo dimana pun, seluruh lokasi ini penuh dengan bunga-bunga kuning itu, seperti di taman bunga,” tuturnya memelas. Bu Uniroh meminta maaf karena gagal menunjukkan keindahan tersembunyi di Pulau tersebut.
“Aduhh, kok gini ya, kok bunganya udah nggak ada? “ ujar Uniroh dengan kening berkerut. Menurutnya, sekitar dua bulan lalu, di lokasi tersebut menjadi habitat bunga berwarna kuning mirip bunga matahari. “Padahal bunga ini belum pernah saya temui lo dimana pun, seluruh lokasi ini penuh dengan bunga-bunga kuning itu, seperti di taman bunga,” tuturnya memelas. Bu Uniroh meminta maaf karena gagal menunjukkan keindahan tersembunyi di Pulau tersebut.
![]() |
| Satu perahu dengan Ketua SP3T Lampung, Bu Uniroh Utami (jilbab merah). |
Akhirnya, penjelajahan kami
berakhir di Spot Snorkeling Ringgung yang berada di tengah laut antara Pantai
Sari Ringgung dan Pulau Tegal. Spot ini lebih indah dibandingkan Batu Putih.
Karang-karang hidup masih banyak. Kami juga menemukan, beberapa karang kecil
yang masih hijau melilit karang-karang hitam yang sudah mati. “Itu karang kecil
yang hijau-hijau itu ditanam sudah empat tahun lalu.
Bayangkan, betapa lamanya harus menyulam tumbuhan karang untuk benar-benar sempurna seperti semula,” ujar Uniroh. Di tengah snorkeling itu, sedikit mengulik kondisi karang-karang di Perairan Lampung yang semakin punah karena kejahilan para oknum pengebom ikan.
Menurut Uniroh, karang-karang tersebut banyak mati karena ulah para pengebom ikan yang serakah. Jika penangkapan ikan laut dilakukan secara ramah, tentunya keindahan alam bawah laut tidak akan terus terjaga. Namun, dia bersyukur, saat ini semakin banyak pecinta alam, termasuk marinir dan masyarakat yang ikut menjaga kelestarian alam bawah laut dengan menanam kembali terumbu karang.
“Yah, tapi begitu, ini semua akan benar-benar bisa dinikmati belasan tahun kemudian, karena karang itu tumbuh sangat lama. Ini adalah tugas kita untuk menjaganya bersama-sama,” tuturnya. Pertualang bawah laut berakhir di spot ini. Hari semakin sore, satu persatu peserta berangsung naik ke perahu, dan beranjak balik ke basecamp di Pulau Tegal.
(RINDA MULYANI)
Bayangkan, betapa lamanya harus menyulam tumbuhan karang untuk benar-benar sempurna seperti semula,” ujar Uniroh. Di tengah snorkeling itu, sedikit mengulik kondisi karang-karang di Perairan Lampung yang semakin punah karena kejahilan para oknum pengebom ikan.
Menurut Uniroh, karang-karang tersebut banyak mati karena ulah para pengebom ikan yang serakah. Jika penangkapan ikan laut dilakukan secara ramah, tentunya keindahan alam bawah laut tidak akan terus terjaga. Namun, dia bersyukur, saat ini semakin banyak pecinta alam, termasuk marinir dan masyarakat yang ikut menjaga kelestarian alam bawah laut dengan menanam kembali terumbu karang.
“Yah, tapi begitu, ini semua akan benar-benar bisa dinikmati belasan tahun kemudian, karena karang itu tumbuh sangat lama. Ini adalah tugas kita untuk menjaganya bersama-sama,” tuturnya. Pertualang bawah laut berakhir di spot ini. Hari semakin sore, satu persatu peserta berangsung naik ke perahu, dan beranjak balik ke basecamp di Pulau Tegal.
(RINDA MULYANI)




EmoticonEmoticon