Dulu
saya sempat bingung memilihkan sekolah untuk anak saya. Bahkan, sebelum masuk
usia sekolah dasar, bingungnya udah duluan menyerang. Bagaimana tidak, saya
melongok ke sekolah negeri, yang banyak pelajaran umumnya, pelajaran agama
hanya 2-4 jam dalam seminggu. Nah, gimana pembangunan karakter dan
akhlatulkarimahnya nanti, bagaimana penanamkan nilai-nilai agama, bagaimana
mengenalkan Akhlak Rasulullah dan para sahabat kepada anakku nanti, sementara
kami suami istri bekerja semua?
Melirik
ke sekolah islam terpadu dan boarding school, biaya masuknya selangit, SPP per
bulan meroket, aduhhh pusing duluan kepalanya. Mulai deh, ngitung-ngitung
pendapatan, ngitung gaji, dikurangi sama cicilan rumah, biaya listrik, biaya
bensin, dan makan sehari-hari. Hik..hik..hik...
speechless!
Alhamdulillah,
akhirnya Allah menunjukkan jalan. Saya mulai membaca banyak artikel tentang
tips memilih sekolah yang bagus untuk anak. Sebagian besar dari artikel yang
saya baca menjelaskan bahwa sekolah bagus ditentukan oleh beberapa hal
diantaranya : Kurikulum, Metode
Pembelajaran, Mutu Guru, Mutu Manajemen, dan kelengkapan Fasilitas serta Sarana
Prasarana.
Dannn...yang
paling penting untuk diperhatikan dan diamati baik-baik adalah kurikulum
pendidikannya serta mutu gurunya. Dua hal ini kata kunci untuk memilih sekolah
yang baik bagi anak. Karena saya ingin menanamkan pondasi nilai yang kuat pada
anak saya, maka saya memilih sekolah berbasis agama atau sekolah islam terpadu.
Saya
buka mata dan telinga untuk menyerap sebanyak-banyaknya informasi tentang
sekolah islam terpadu yang ada di sekitar area perumahan. Ada beberapa sekolah
islam terpadu dengan harga yang mehong. Terus cari, cari terus, hehehe, sampai
akhirnya saya bertemu dengan sekolah islam terpadu dengan harga terjangkau.
Cuma
memang, sarana gedung masih dalam pengembangan, fasilitas air bersih kadang
tersendat, hik..hik..lapangan olahraga minim, tapi ada masjid sekolah, ada
kantin, dan ruang kelas yang layak. Alhamdulillah, saat ini anak saya sudah
masuk ke hapalan juz 28, memahami kewajiban shalat, puasa, bisa berbahasa Arab,
bahasa Inggris walau tersendat-sendat,hehehe.
Saat
mendengar ceramah Ustad Abdul Somad saat mengisi kegiatan Maulid Nabi Muhammad
SAW di Lapangan Enggal, Bandar Lampung, Lampung pada Selasa, 12 Desember 2017
lalu, saya semakin bersyukur tidak salah memilihkan sekolah untuk anak saya.
Dalam
syiarnya, Ustad ahli hadist dan perbandingan mazhab ini menjelaskan tentang
sistem pendidikan sekuler dan pendidikan agama. Menurut Ustad Abdul Somad, saat
ini sistem pendidikan terbagi dua, yaitu pendidikan sekuler/liberal dan
pendidikan agama.
“Sekarang
pendidikan terbagi dua, yang sebelah kiri, hebat fisika, hebat kimia, hebat
matematika, tapi tidak bisa shalat.
Allahuakbar, diam saja, itu pun (shalatnya) idul fitri sama idul adha aja,”
ujar Ustad Abdul Somad. Yang sebelah kanan, ujarnya, ngerti hadist, ngerti
fikih, ngerti sejarah Islam, tapi kalau lampu, dia bingung, kalau laptop mati
dia bingung, “Gaptek”.
“Nah,
yang tengah yang hebat, (sistem pendidikan) yang mengombinasikan keduanya.
Bahasa Inggris mantap, fisika mantap, biologi mantap, medisnya mantap, quran
hadistnya mantap, akidahnya mantap, tauhidnya mantap, ilmu kalamnya mantap.
Inilah yang akan menolong agama Allah,” ujar Ustad Somad disambut gemuruh tepuk
tangan masyarakat Lampung.
Bersyukur
saat ini sistem pendidikan Islam Modern yang memadukan pendidikan
umum/sains/teknologi dengan pendidikan agama sudah menjamur. Ada pondok
pesantren modern Gontor, Al Azhar, Islamic Boarding School, Sekolah Islam
Terpadu, Tahfizul Quran, dan lainnya yang sudah memadukan ilmu umum dan agama.
Sistem
pendidikan islam modern ini kini menjadi favorit di tengah masyarakat sebab
siswanya tidak hanya dibekali dengan nilai-nilai agama Islam, kekuatan karakter
dan akhlatul karimah, tapi juga diajarkan untuk menguasai ilmu pengetahuan,
teknologi, kemampuan bahasa internasional, dan keterampilan lainnya. Hayo
Bunda, mau pilih yang mana?
(Rinda
Mulyani)

1 komentar so far
Saya milih sekolah yg tetap mementingkan karakter & agama :)
EmoticonEmoticon