Showing posts with label bahari. Show all posts
Showing posts with label bahari. Show all posts

Thursday, 21 December 2017

Tarian Eksotis Lumba-Lumba Teluk Kiluan

lumba-lumba teluk kiluan
Pengunjung sedang menyaksikan segerombolan lumba-lumba
melintas di Teluk Kiluan. Foto :1.bp.blogspot.com.

Sunrise di ujung laut Teluk Kiluan masih menyisakan jingga di langit Pekon Kiluan Negeri, Kelumbayan, Tanggamus. Dari kejauhan nampak beberapa titik oranye yang berayun karena dimainkan ombak. Itulah jukung atau perahu ketiting berupa perahu kayu kecil yang membawa para wisatawan melaju mendekati laut dalam Teluk Kiluan untuk menyaksikan atraksi lumba-lumba di laut lepas.

Teluk Kiluan, Kelumbayan, Tanggamus memang menjadi salah satu wisata andalan di Provinsi Lampung. Teluk ini menjadi jalur migrasi lumba-lumba hidung botol (Tursiops Truncatus) dan lumba-lumba Paruh Panjang (Stenella Longirostris). Bahkan, beberapa nelayan juga kerap melihat lumba-lumba paus martir melintas disana.

Jika ingin bertemu dan menyaksikan tarian eksotis lumba-lumba di Teluk Kiluan, maka para pengunjung harus menginap satu malam di desa Kiluan Negeri, Kelumbayan. Sebab, gerombolan lumba-lumba ini hanya akan muncul di pagi hari sekitar pukul 06.00-08.00 WIB. Jika sudah lewat jam tersebut, maka mamalia yang dikenal paling bersahabat dengan manusia ini sangat sulit dijumpai.

Jika belum beruntung bertemu dengan lumba-lumba, tidak usah kecewa karena alam Kiluan sangat indah. Pantainya  memiliki putih dan bersih, serta terdapat spot untuk snorkeling. Bahkan, pengunjung juga bisa melanjutkan wisata ke Laguna Gayau atau kolam renang alami yang terletak di balik bukit Teluk Kiluan. Untuk sampai di spot Laguna Gayau dibutuhkan waktu kurang lebih 30 menit karena letaknya berada tepat di belakang bukit Teluk Kiluan.

Laguna Gayau terbentuk oleh cekungan di tepi pantai dan dibatasi oleh dinding-dinding batu karang. Air di dalam laguna berwarna biru kehijauan, bening hingga pandangan bisa menembus hingga ke dasar. Kedalaman laguna berkisar 1-3 meter sehingga aman untuk berenang ataupun sekedar berendam didalamnya.

Transportasi ke Teluk Kiluan

Wisata Teluk Kiluan berjarak sekitar 80 km dari kota Bandar Lampung, dapat ditempuh sekitar 3 jam perjalanan menggunakan mobil. Dulu, perjalanan ke Kelumbayan bisa mencapai 4 hingga 5 jam karena kondisi jalan yang rusak parah, dan beberapa masih tanah merah. Namun, kini dapat ditempuh lebih cepat karena sudah dilakukan pembangunan dan perbaikan jalan. 

Sayangnya, saat ini mulai muncul lubang-lubang besar di tengah jalan. Jika berkendaraan ke Kiluan dianjurkan dengan kecepatan santai dan lebih waspada agar tidak terperosok lubang.

Pengunjung juga dianjurkan untuk membawa bekal dari rumah atau dibeli di luar lokasi karena saat di desa Kiluan Negeri sulit menemukan warung atau toko sembako. Bawa bekal snack dan minuman mineral secukupnya.

Lumba-lumba mendekati perahu nelayan. Foto : lampost.co


Penginapan

Penginapan di Teluk Kiluan bervariasi, ada yang berlokasi di pinggir pantai dengan harga yang lebih mahal, tapi juga ada yang berlokasi di sisi bukit Desa Kiluan Negeri. Harga penginapan berkisar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu sesuai luas dan jumlah kamar. Bahkan, pengunjung bisa menyewa cottage yang memiliki dua kamar dan satu ruang tamu seharga Rp400 ribu, sehingga bisa dijadikan tempat menginap satu keluarga. Pada akhir pekan atau musim liburan sebaiknya booking penginapan terlebih dahulu agar tidak kehabisan.

Namun, jika penginapan penuh, Anda tidak perlu khawatir, datangi saja RT setempat untuk menanyakan warga yang menyediakan penginapan bagi pengunjung karena beberapa warga menyediakan kamar untuk disewa. Bahkan, warga juga menyediakan makanan dengan menu ikan bakar dengan tarif Rp20.000 per/porsi. Cita rasa ikan di Teluk Kiluan berbeda dengan ikan-ikan yang Anda makan di restoran, disini lebih manis dan gurih karena diolah langsung setelah ditangkap nelayan.

Beberapa cottage juga menawarkan tarif paket wisata kepada pengunjung, yaitu paket menginap 1 malam seharga Rp450 ribu, itu sudah biaya menginap, dolphin tour, pantai laguna, pulau kelapa, pasir putih, penyeberangan menuju Teluk Kiluan, life jacket, snorkeling, guide dan makan 3 kali. 

Sedangkan untuk paket menginap 2 malam seharga Rp850 ribu, berupa cottage, dolpihin tour 2 kali, pantai laguna, pulau kelapa, snorkeling, penyeberangan, life jacket, fotografer, BBQ 1 kali, makan 6 kali, dan guide.
 
Sekilas Teluk Kiluan

Teluk Kiluan sudah menjadi destinasi favorit wisatawan mancanegara sejak 1995, disaat masyarakat Lampung sendiri belum menyadari memiliki potensi wisata eksotis di kawasan tersebut. Ketika itu akses menuju Teluk Kiluan juga sangat sulit, masih tanah merah, berbatu dan melewati jalan kecil dengan tebing curam. 

Sekitar 2004, barulah objek wisata ini mulai ramai dikunjungi wisatawan domestik. Pemerintah kabupaten juga mulai melirik potensi destinasi bahari ini dengan membangun jalan menuju Kiluan dan mempermudah akses transportasi ke Teluk dengan habitat lumba-lumba terbesar se Asia Tenggara ini. (M-1)

Wednesday, 20 December 2017

Mengejar Ombak di Pantai Tanjung Setia

Pantai Tanjung Setia
Seorang peselancar melakukan aktifitas surfing
di Pantai Tanjung Setia, Krui, Lampung Barat. Foto : lampost.co

Pertamakali menginjakkan kaki di pasir putih Pantai Tanjung Setia, Krui, Lampung Barat, mata saya terpana melihat pasir putih yang bersih dan gulungan ombak yang berkejaran menuju bibir pantai. Beberapa turis telanjang dada menenteng papan surfing berjalan santai menuju spot yang menghasilkan gelombang minimal setinggi 4 meter.

Salah satu turis asal Australia yang saya temui mengaku sudah menjadikan Tanjung Setia langganan untuk liburan surfing sekali setahun. Menurutnya, dia sudah pernah mencoba surfing di beberapa tempat wisata di Indonesia, termasuk di Bali. “Gelombang disini tidak kalah bagus dengan di Bali, untuk surfing minimal tinggi gelombang 4 meter, di Pantai ini, pada pertengah tahun ombaknya bisa sangat tinggi sampai 7 meter,” ujarnya. 

Dia mengaku memilih berwisata ke Pantai Tanjung Setia hanya disaat ombak bagus karena tujuannya untuk surving. Para peselancar manca negara yang mengejar ombak di Pantai Tanjung Setia akan menginap 3-5 bulan hanya untuk melakukan hobi mereka menaklukkan ombak.

Ketinggian Ombak Bervariasi 

Pantai Tanjung Setia berada di jalur arus besar Samudera Hindia, hal ini menjadikan ombaknya cukup stabil. Ombak pantai ini akan mencapai ketinggian tertinggi di sekitar bulan April hingga Agustus. Pada waktu tertentu, ombaknya bisa mencapai tinggi 7-18 meter, dengan panjang mencapai 200 meter. Pantai ini juga pernah menjadi lokasi pilihan penyelenggaraan even Kejuaraan Surfing International Krui Pro 2017 pada April lalu.

Pantai Tanjung Setia juga menjadi pilihan yang tepat bagi peselancar pemula karena ketinggian ombak yang bervariasi pada spot-spot tertentu, ada yang 3 meter, 4 meter, dan 5 meter. Biasanya para pemula cukup dengan ombak setinggi 3 meter. Untuk mendapatkan alat selancar seperti sepatu, papan selancar, serta pakaian surfing sangat mudah. Di sekitar pantai Tanjung Setia banyak kedai-kedai kecil yang menjual alat surfing dan diving, dan snorkeling. 

Baca juga : Diantara Keheningan Hutan Bukit Barisan

Transportasi Menuju Lokasi

Jarak dari ibu kota Provinsi, Bandar Lampung ke Tanjung Setia cukup jauh yaitu sekitar 273 kilometer, jika diakses menggunakan angkutan umum atau mobil membutuhkan waktu sekitar 6—8 jam. Makannya, kalau ingin berwisata ke Pantai Tanjung Setia, sebaiknya sediakan waktu sekitar satu minggu sehingga bisa menikmati wisata bahari Krui ini dengan puas.

Spot Snorkeling dan Diving
Pantai ini tidak hanya menjadi incaran para peselancar lokal dan manca negara, tapi juga diserbu wisatawan yang ingin menikmati keindahan sunset, bermain pasir, atau berenang di pinggir pantai. Tapi hati-hati lo ya mencari lokasi berenang, karena pinggir pantai Tanjung Setia terdapat banyak karang yang cukup tajam.

Saya pernah berenang dengan asyiknya, setelah beberapa menit keluar dari air laut, baru terasa pedih di telapan kaki, dan ternyata ada beberapa bagian yang robek karena menginjak karang tajam, hik..hik..hik.

Para  wisatawan juga bisa melakukan aktifitas snokeling dan diving pada spot-spot tertentu. Tidak usah khawatir mencari spot yang bagus, biasanya penginapan sudah menyediakan pemuda sekitar yang berprofesi sebagai guide atau pemandu wisata.

Pemuda setempat menjadi guide wisata peselencar manca negara.
Foto : lampost.co


Kuliner

Kuliner di Tanjung Setia terus berkembang. Setiap tahun, kunjungan wisatawan terus bertambah. Ini juga mendorong tumbuhnya sentra kuliner di Tanjung Setia. Selain variasi menu yang dapat Anda pesan di hotel atau tempat penginapan Anda, juga banyak rumah makan yang tumbuh di sekitar lokasi pantai dengan variasi menu nusantara, dan manca negara.

Baca Juga : Menikmati Keindahan Bawah Laut Pulau Tegal

Namun, kuliner  yang paling berkesan tentunya menikmati menu khas Lampung Barat yaitu Sop Ikan Blue Marlin atau disana dikenal dengan nama Sop Ikan Tuhuk. Sebagian besar rumah makan di Tanjung Setia juga menawarkan ikan laut segar yang siap diolah, bisa dibakar, digoreng, dipepes, atau diolah dengan saus sambal.

Penginapan

Di sepanjang pinggir Pantai Tanjung Setia terdapat penginapan, cottage, losmen, hingga hotel. Anda bisa memilih tempat menginap yang dapat disesuaikan dengan kocek Anda. Bahkan, beberapa warga yang memiliki rumah atau lahan di sekitar lokasi juga menerima sewa menginap bagi para wisatawan. Harga penginapan yang ditawarkan sekitar Rp 100.000 hingga Rp 250.000 aja per malam.

Ini beberapa hotel yang dapat Anda jadikan referensi untuk menginap selama liburan di Tanjung Setia:
Hotel Jembar Manah
Alamat: Jalan Raya Pasar Liwa
telepon: + 62-728-21012

Hotel Karang Nyimbor
Alamat: Jalan Raya Tanjung Setia, Pesisir Selatan, Biha

Hotel Permata
Alamat: Jalan Raya Way Mengaku, Liwa
telepon: + 62-728-21022
Hotel Pesagi
Alamat: Jalan Raya Sebarus, Liwa
Telepon: + 62-728-21252

Wisma Silalapai
Alamat: Jalan Raden Intan No.1 Liwa
telepon: + 62-728-21750

Kepalas Losmen
Alamat: Krui
Telepon: +62 828 721 1215




Saturday, 19 August 2017

Menikmati Keindahan Bawah Laut Pulau Tegal

Bersiap menuju spot snorkeling dari pinggir pantai 
Pulau Tegal, Desa Gebang, Pesawaran, Lampung.
“KRIK..krik..,” suara binatang malam masih terdengar diselingi kicau burung menyongsong subuh, Sabtu (29/7/2017). Nyiur kelapa di sepanjang pinggir pantai Pulau Tegal, Pesawaran, melambai lembut seperti kipas besar para dayang. Debur ombak menampar batu karang terdengar jelas, diselingi suara riak yang belari mengejar bibir pantai. 

“Ayo shalat subuh, setelah itu makan, jam 8 kita snorkling ke Batu Putih,” ujar Ketua Sukarelawan Peduli Pendidikan Pulau Tegal (SP3T) Lampung, Uniroh Utami menyapa para traveler Rumah Zakat dan tim yang ikut dalam kegiatan hari itu.


Uniroh sendiri sudah bersiap menggunakan baju kaos dan celana kaos panjang lengkap dengan hijabnya. Dia mengajak salah satu anak didiknya, Riski, untuk menghitung jumlah pelampung dan alat snorkeling yang sudah disewa untuk kebutuhan menikmati keindahan bawah laut Pulau Tegal seharian nanti. 

“Tadi Ibu sewa 30 pelampung dan 30 alat snorkeling, cukup nggak Ki? Kalau udah lengkap semua, naikkin ke perahu ya Ki,” ujar Uniroh kepada Riski yang kerap menjadi asisten pribadinya melayani sukarelawan atau wisatawan yang berkunjung ke Pulau Tegal.

“Iya Bu, siap,” ujar Riski yang langsung membopong beberapa pelampung yang ada di atas Rumah Baca menuju tiga kapal kecil yang tertambat di pinggir pulau. Melihat Riski dan Uniroh mulai berkemas, beberapa pemuda dari Rumah Zakat, termasuk saya yang ikut rombongan wartawan membantu membawa peralatan snorkeling tersebut. 

Pada liputan kali ini, saya mengajak suami dan anak, tujuannya agar anak saya ikut belajar tentang kehidupan anak-anak di Pulau. Nah, wisata melihat keindahan bawah laut Pulau Tegal ini adalah bonus setelah seharian melihat proses pendidikan dan rehabilitasi Rumah Belajar di Pulau Tegal yang dilakukan tim SP3T , Rumah Zakat , Lazdai, dan para Marinir Yon 9 Brigif 3 Piabung.
 

Selayang Pandang Pulau Tegal
Anak-anak Pulau Tegal mengikuti pengenalan profesi 
oleh mahasiswa peserta Rona Nusantara, Rumah Zakat 
bekerjasama dengan SP3T Lampung.
Secara administratif, Pulau tegal masuk dalam Desa Gebang, Kabupaten Pesawaran, Lampung. Pulau seluas 98 Hektare ini dihuni oleh 35 kepala keluarga. Rumah-rumah tersebut tersebar secara berkelompok di beberapa sisi bagian pulau. Di lokasi Rumah Belajar Pulau Tegal tersebut hanya ada sekitar 10 rumah penduduk, selanjutnya sekitar 500 meter menyeberangi hutan dan semak-semak baru ditemukan lagi sekitar delapa rumah penduduk. 

“Ya 35 kepala keluarga itu tidak menumpuk di satu tempat, tapi mencar-mencar. Malah rumah Ibu RT nya harus naik perahu dulu ke sisi Pulau itu,” ujar Uniroh sambil menunjuk ke arah Barat pulau.

Anak-anak di Pulau Tegal tidak bisa mengenyam pendidikan dengan layak.  Ada sekitar 25 anak usia SD hingga SMA yang tidak memiliki kesempatan mengenyam pendidikan di sekolah formal. Sebagian dari anak-anak Pulau ini harus keluar pulau untuk masuk sekolah formal. Namun, itu tidak bertahan lama, sebagian besar terpaksa putus di tengah jalan karena ketiadaan biaya dan ikut bekerja mencari ikan bersama orangtua mereka.

Baca juga : Suoh, Surga yang Tersembunyi

Kondisi inilah yang mengunggah Uniroh yang juga Kepala SMPN 25 Pesawaran mengajak guru dan rekan kerjanya untuk menjadi sukarelawan mengajar anak-anak di Pulau Tegal. Maka pada September 2016 didirikanlah Sukarelawan Peduli Pendidikan Pulau Tegal (SP3T) Lampung dengan misi anak-anak Pulau Tegal dapat menikmati pendidikan formal.

Jika awal-awal pendirian, sekitar 25 anak usia sekolah di Pulau Tegal hanya mendapatkan pendidikan seadanya, maka kini sudah berdiri Rumah Belajar dan tim guru relawan yang mengajar anak-anak sesuai kurikulum dan jenjang sekolah formal. Rumah Belajar ini berafiliasi dengan sekolah formal yang ada di Pesawaran.

Menurut Uniroh, di Pulau Tegal terdapat tiga kelompok belajar yaitu kelas rendah bagi anak-anak usia 1—III SD, kelas tinggi bagi anak-anak usia kelas IV—VI SD, dan SMP bagi anak-anak usia SMP. Setiap hari ada tiga guru yang mengajar ke pulau, pembelajaran berlagsung mulai Senin—Jumat. (berita lampung)
   
Bertemu Nemo 
Snorkeling di spot Batu Putih menyaksikan ikan badut (nemo)
 yang hidup di anemon karang laut.
Proses rehabilitasi Rumah Belajar dan MCK bagi siswa Pulau Tegal dilaksanakan selama tiga hari, Jumat—Minggu (28—30/7/2017). Di akhir kegiatan, bonus...tralala, saatnya tim menjelajahi bawah laut Pulau Tegal. 

Bu Uniroh yang sudah hapal spot-spot snorkeling, kami dan para mahasiswa yang bergabung dalam kegiatan Rona Nusantara Rumah Zakat mempersiapkan diri di atas perahu. Aku bersama suami dan anakku, Aura Annisa Anwar Sani satu perahu dengan Bu Uniroh, dan Kapten Rizal Marinir Piabung, serta beberapa anak Pulau. 

Spot pertama yang kami sambangi adalah Batu Putih. Di lokasi tersebut terdapat batu karang putih besar. Anak Pulau yang sudah terbiasa dengan air laut langsung melompat dengan gaya salto. Kami memilih turun melalui tangga kapal dan memulai petualangan menonton keindahan bawah laut Pulau Tegal. 

karang di spot ini sudah mati, tapi kami terus bergerak ke depan dan akhirnya bertemu dengan karang-karang yang masih hidup. “Mama ada bintang laut biru!” teriak anakku yang baru pertamakali melakukan snorkeling.


Kami juga bertemu dengan anemon, rumahnya di ikan badut (nemo), dan satu ekor nemo yang tinggal di sela-sela enemon tersebut. “Ada nemo, ada nemo, ayo sini,” teriak Aura memberi tahu peserta yang lain. Karang warna-warni dan lalu lintas gerombolan ikan karang seakan tidak terusik dengan kehadiran kami. Tidak terasa, sudah dua jam kami menikmati spot di Batu Putih, kelelahan mulai terasa karena tekanan pelambung pada bagian ketiak dan dada.

Enaknya, di lokasi ini, peserta snorkeling bisa menepi dan duduk di batu karang putih yang cukup banyak di pinggir pantai. Berbeda dengan anak-anak Pulau, tubuh mereka seakan tidak mengenal lelah. Kulit yang hitam terkena air garam dan sinar matahari pun tidak membuat mereka menyerah untuk istirahat sejenak. Dari atas batu karang putih yang cukup besar dan tinggi, mereka melompat dan salto menceburkan diri ke laut.

Si Mungil Terumbu Karang 

Sekitar pukul 11.30, kami beranjak mencari spot lain. Bu Uniroh seperti memiliki sebuah surprise yang ingin ditunjukkan kepada kami. Sekitar 10 menit perjalanan , perahu menambah di pasir putih yang bersih. Bu Uniroh bergegas turun dan langsung menuju suatu lokasi di daratan. Kami menyusul di belakang. 

“Aduhh, kok gini ya, kok bunganya udah nggak ada? “ ujar Uniroh dengan kening berkerut. Menurutnya, sekitar dua bulan lalu, di lokasi tersebut menjadi habitat bunga berwarna kuning mirip bunga matahari. “Padahal bunga ini belum pernah saya temui lo dimana pun, seluruh lokasi ini penuh dengan bunga-bunga kuning itu, seperti di taman bunga,” tuturnya memelas. Bu Uniroh meminta maaf karena gagal menunjukkan keindahan tersembunyi di Pulau tersebut.

Satu perahu dengan Ketua SP3T Lampung, Bu Uniroh Utami (jilbab merah).
 Akhirnya, penjelajahan kami berakhir di Spot Snorkeling Ringgung yang berada di tengah laut antara Pantai Sari Ringgung dan Pulau Tegal. Spot ini lebih indah dibandingkan Batu Putih. Karang-karang hidup masih banyak. Kami juga menemukan, beberapa karang kecil yang masih hijau melilit karang-karang hitam yang sudah mati. “Itu karang kecil yang hijau-hijau itu ditanam sudah empat tahun lalu.

 Bayangkan, betapa lamanya harus menyulam tumbuhan karang untuk benar-benar sempurna seperti semula,” ujar Uniroh.  Di tengah snorkeling itu, sedikit mengulik kondisi karang-karang di Perairan Lampung yang semakin punah karena kejahilan para oknum pengebom ikan. 

Menurut Uniroh, karang-karang tersebut banyak mati karena ulah para pengebom ikan yang serakah. Jika penangkapan ikan laut dilakukan secara ramah, tentunya keindahan alam bawah laut tidak akan terus terjaga. Namun, dia bersyukur, saat ini semakin banyak pecinta alam, termasuk marinir dan masyarakat yang ikut menjaga kelestarian alam bawah laut dengan menanam kembali terumbu karang. 

“Yah,  tapi begitu, ini semua akan benar-benar bisa dinikmati belasan tahun kemudian, karena karang itu tumbuh sangat lama. Ini adalah tugas kita untuk menjaganya bersama-sama,” tuturnya. Pertualang bawah laut berakhir di spot ini. Hari semakin sore, satu persatu peserta berangsung naik ke perahu, dan beranjak balik ke basecamp di Pulau Tegal.   

(RINDA MULYANI)