Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

Monday, 1 January 2018

6 Tips Mengembalikan Semangat Kerja Setelah Libur


Memompa semangat kerja setelah liburan
Mengembalikan semangat kerja setelah liburan panjang.
Alhamdulillah, tak terasa masih diberi kesehatan dan umur panjang oleh Allah SWT di tahun baru 2018 ini. Pagi ini, tepatnya 2 Januari 2018 adalah hari pertama mulai masuk kerja lagi. Setelah libur yang cukup panjang, mengisi waktu bersantai dan rekreasi bersama keluarga, hari pertama kerja terasa agak berat ya? Hehehe.

Nah, kali ini, saya mau berbagi tips mengembalikan semangat kerja setelah liburan panjang di akhir tahun :


1.    Warming up

Kalau saya sih memperhatikan jadwal masuk kerja hari pertama. Artinya, satu hari menjelang masuk kerja, saya sudah mulai stand by di rumah, tidak ada jalan-jalan lagi walau hanya ke mall atau lokasi wisata terdekat dalam kota sekalipun. Semua rekreasi dan liburan saya selesaikan satu hari menjelang masuk kerja.

Nah, di hari inilah, saya mulai menyiapkan semua keperluan kerja, mulai dari pakaian kerja, tas, pulpen, pensil, dokumen, laptop, andoid,  dan sebagainya yang dibutuhkan untuk rutinitas kerja. Termasuk, servis motor dan memastikan isi bensin penuh.

Nggak cuma keperluan saya, tapi juga keperluan kerja suami. Saya juga mengajak anak untuk mempersiapkan keperluan sekolahnya, mulai dari pakaian sekolah, tas, buku, pensil, penghapus, peruncing, penggaris, dan semua hal yang berkaitan dengan kebutuhan sekolah.

Saya menyebut ini warming up (pemanasan), hehehe.

2.    Tidur lebih cepat dan bangun lebih pagi

Sangat berbeda di hari libur, saya dan keluarga kadang tidur lebih malam karena habis jalan-jalan, atau sekedar nonton film bersama di rumah, dan mengerjakan hobi ngedit video untuk channel youtube hingga larut malam.

Nah, di malam pertama masuk kerja ini, saya langsung ubah kebiasaan, saatnya tidur lebih cepat. Tentu saja ini sangat membantu menjaga kesegaran tubuh, dan kesegaran pikiran. Ketika bangun pagi-pagi, saya sempatkan untuk menghirup udara segar di luar rumah, lanjut dengan rutinitas sebagai ibu rumah tangga, menyiapkan bekal sekolah dan makan untuk keluarga.

Selesai dengan tugas ini, langsung mandi, menggunakan busana kerja yang rapi dan wangi, dan mulai melaju ke kantor sambil mengawali hari dengan Bismillahirrahmanirrahim.

3.    Datang lebih cepat ke kantor

Ini yang saya lakukan, datang lebih cepat ke kantor ternyata dapat merangsang semangat kerja lebih baik. Seperti biasa, melakukan finger print dan masuk ke ruang kerja, menghidupkan komputer, menyiapkan berkas dan dokumen yang harus diselesaikan hari ini di atas meja.

  
4.    Jalin komunikasi dengan rekan kerja

Yups, setelah mengawali semuanya di ruang kerja, saatnya keluar dulu menyapa rekan kerja lain. Karena saya di bagian Divisi Radio, maka saya ke ruang studio  bertemu dengan penyiar, programmer, dan music director, menanyakan program 2018 yang sudah harus mulai dijalankan hari ini.

Setelah itu, ke ruang rapat kecil bergabung dengan rekan-rekan AE untuk saling berbagi tentang  klien yang akan dikunjungi hari ini, bagaimana pendekatan dengan klien baru, sambil disisipi dengan cerita-cerita selama liburan kemarin.

Ini langkah penting untuk membangun kebersamaan dan kedekatan emosi dengan rekan kerja yang sempat terputus selama liburan. Dengan kebersamaan ini, maka akan tumbuh semangat untuk melakukan yang terbaik untuk perusahaan di tahun baru, 2018.

5.    Ciptakan suasana nyaman di ruang kerja

Suasana nyaman ini tergantung selera, kalau kamu suka musik, maka silahkan setel musik yang kamu sukai dengan volume kecil sehingga tidak mengaggu rekan kerja yang lain. Atau kalau terbiasa mengawali hari dengan bacaan ayat-ayat suci Alquran, maka setel murottal sehingga memberikan energi positif dalam bekerja.

6.    Asah konsentrasi

Di hari pertama ini mungkin mood sudah mulai membaik untuk melakukan rutinitas kerja. Mulai lah mengasah konsentrasi dan fokus para profesi yang dijalani di perusahaan tersebut. Selesaikan tugas hari ini dengan baik, melapor ke atasan, berkoordinasi dengan rekan kerja, menyapa klien, menyelesaikan semua berkas yang tertunda selama liburan. Pulang lah sesuai jam kerja, di hari kedua dan selanjutnya, rutinitas ini tidak akan terasa berat lagi.

Dengan tips ini, semangat kerja yang kendur selama liburan dapat kembali bahkan dengan energi yang lebih tinggi untuk pencapaian di 2018 yang lebih baik.




Tuesday, 14 November 2017

Bermain Squishy Asah Kreatifitas Anak

Mewarnai squishy.
Hari ini hari libur sekolah. Ruang tamu dalam kondisi berantakan, potongan spon bertebaran dimana-mana, ada juga lembaran-lembaran tisu yang sudah robek-robek, spidol acak-acakan. Dan, anaknya tertawa riang menunjukkan hasil karyanya. “Ma, lihat, ini squishy buatanku, slow lo Ma. Gimana Ma, bagus kan, ini ibloom peach,” kata anaknya yang saat ini duduk di kelas IV SDIT Miftahul Jannah, Rajabasa, Bandar Lampung. Tangannya meremas squishy buatanya yang diwarnai dengan spidol merah jambu muda.

Kini, ini menjadi aktifitas kami berdua di saat libur sekolah. Mataku sempat melirik tebaran potongan spon, tisu, dan peralatan lain yang acak-acakan, tapi segera aku abaikan. “Coba sini mama pegang,” ujarku. Anakku langsung memberikan squishy buatannya. “Aiiihhh, iya lo, lembut dan slow ya. Aura mah boleh lo, bisaan bikin squishy,” saat meremas squishy buatan anakku itu, rasa kesal melihat rumah yang berantakan langsung hilang. “Ya udah Nak, nanti kalau udah selesai kita beresin rumah bareng ya,” ujarku. Aktifitas membuat squishy ini sangat menyenangkan dan bikin ketagihan.

https://youtu.be/zvOPb_OVIBQ



Jujur saja, aku memilih membelikan spon, double tip, spidol dan tisu untuk membuat squishy home made karena harga squishy kan mahal banget. Kalau aku menuruti membelikan semua squishy keinginan anakku, jelas aku tidak akan sanggup, kantong bisa jebol. Dulu sih, awal anakku minta dibelikan squishy, aku selalu menolak. Sampai akhirnya, anakku menonton video cara membuat squishy, nah langsung deh dia minta dibelikan semua bahan untuk membuat squishy.

Permintaan yang satu ini aku turuti. Alasannya, dengan membuat squishy sendiri, jelas lebih murah, dan anakku bisa lebih kreatif. Dia belajar membuat sketsa gambar squishy yang diinginkan kemudian memotong spon sesuai sketsa tersebut. Belajar menempelkan double tip dengan rapi, memasang tisu dengan rapi, dan kemudian mewarnai squishy tersebut sesuai keinginannya.

Selain itu, aku juga ingin mengajarkan kepada anakku bahwa untuk mendapatkan mainan yang lagi tren tidak harus dengan membeli yang mahal-mahal dan menjadi konsumtif, tapi bisa lewat kreasi sendiri. Jadilah setiap libur sekolah, rumah berantakan oleh perbuatan kami berdua yang asyik membuat squishy.
 
Setelah memiliki beberapa squishy, anakku meminjam handphone, lalu masuk ke kamar. Awalnya aku biarin aja, paling dia mau nonton videonya Ria Ricis, si Ratu Squishy,hehehe. Namun, kok anakku kayak ngomong sendiri ya. Begitu aku intip ke kamar, disana sudah tersusun aneka squishy buatannya yang siap dijual. Bahkan, dia menulis nama-nama squishy miliknya, ada jumbo bread, ibloom peach, strowberry, kapibarasan, panda bun, dan lain sebagainya.

Ternyata oh ternyata, anakku membuat video home sale squishy! Yups, bertambah lagi satu kreatifitas anakku. Mungkin anakku tidak menyadarinya karena itu adalah hal yang dia senangi, tapi dia sudah belajar bermain peran, dan berwirausaha.

Tapi, ada nih satu tugas yang cukup berat ketika anak sudah asyik dengan squishy mainannya (apalagi kalau bermain home sale nya gabung dengan dua teman akrabnya), yaitu mengingatkan untuk tidak melalaikan shalat, dan tidak lupa belajar. Saat azan tiba, anakku harus selalu diingatkan. “Aura, ayo shalat dulu, setelah itu kalau mau main boleh main lagi. Kalau nggak shalat, berarti nggak boleh melanjutkan bermain karena syarat bermain squishy adalah tidak boleh melalaikan shalat!”. Harus tegas memang, tapi kami berdua sudah meyepakati aturan ini.

Baca Juga Berita-Berita Lampung 

(Rinda Mulyani)

Monday, 13 November 2017

Motivasi Kang Abik Luncurkan Novel Bidadari Bermata Bening

Habiburrahman El Shirazy membedah novel terbarunya,
Bidadari Bermata Bening di Masjid Al Walidain, Ponpes Al Firdaus,
BKP Kemiling, Bandar Lampung, Minggu (13/11/2017).
Bertemu dengan penulis novel Islami nomor 1 di Indonesia, Habiburrahman El Shirazy tentunya sangat menyenangkan. Apalagi dapat mendengarkan cerita dan pengalaman langsung dari ustad yang akrab disapa Kang Abik ini. Tentunya di dunia novelis nama Kang Abik sudah tidak asing kan, termasuk bagi para penggemar buku-buku karya Kang Abik yang sudah banyak dijadikan film. Yang paling booming, Ayat-Ayat Cinta 1, Ketika Cinta Bertasbih 1, yang kemudian dibuat seri kedua. Beberapa karya Kang Abik yang lain adalah Dalam Mihrab Cinta, Cinta Suci Zahrana, Bumi Cinta, dan Api Tauhid.

Nah, Alhamdulillah, Minggu kemarin (12/11/2017), saya diundang teman mengikuti bedah novel terbaru Kang Abik berjudul Bidadari Bermata Bening di Masjid Al Walidain, Pondok Pesantren Al Firdaus, BKP Kemiling, Bandar Lampung. Dan,  yang membedahkan...Yups! langsung sanga penulis, Habiburrahman El Shirazy atau Kang Abiiikkkk!

 Kegiatan bedah buku ini berbarengan dengan peluncuran program holiday with quran Ponpes Al Firdaus, dan sponsornya banyak banget loooo. Kang Abik sendiri didatangkan oleh pihak Republika karena memang semua buku Kang Abik diterbitkan oleh Republika. Juga ada pendukung acara dari Tapis Blogger, Forum Lingkar Pena Lampung, Jati Wangi Residen, dan Hotel Nusantara Syariah.

https://youtu.be/WPctjr_DfG8


Saat Kang Abik memaparkanmotivasinya membuat novel Bidadari Bermata Bening ini, saya suprise banget. Ternyata tujuan Kang Abik menulis buku sangat mulia, dia ingin anak muda Indonesia, terutama yang putri memiliki rasa percaya diri, dan berani berimajinasi atau bermimpi besar untuk sebuah kebaikan.

“Berimajinasi ini sangat penting untuk menggali dan menggerakan semua potensi yang kita miliki, berani bermimpi. Beda dengan berkhayal ya, karena berkhayal itu dilarang oleh Rasulullah,” ujar Kang Abik. Menurut Kang Abik, Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam dulu juga sering mengajak sahabatnya untuk berimajinasi, memiliki visi yang besar untuk menegakkan  Agama Islam di bumi ini.

Kang Abik mencontohkan saat perang khandaq, para sahabat yang saat itu sudah di Madinah dikepung oleh musuh. Sampai akhirnya salah satu sahabat mengusulkan untuk membuat parit menggelilingi benteng mereka. Saat mengali parit, para sahabat mendapati satu batu besar yang tidak sanggup mereka pecahkan. Akhirnya Rasulullah mengambil palu dan memukul batu tersebut hingga keluar percikan api, lalu Rasulullah berkata bahwa telah diberikan kepadaku negeri Persia. 

Novel terbaru Habiburrahamn El Shirazy


“Apa itu artinya, artinya Rasulullah memberikan imajinasi kepada para sahabat bahwa negeri Persia saja bisa mereka dapatkan, apalagi cuma memenangkan perang Khandaq waktu itu. Mendengar Rasulullah berkata seperti itu, mengalir lagi semangat dalam diri para sahabat, dan akhirnya ucapan Rasulullah terbukti bahwa Islam mampu menguasai Persia. Itulah imajinasi, itulah visi, jadi kalian anak-anak muda jangan takut untuk bermimpi besar untuk kebaikan,” tutur Kang Abik.
 
Dia menyayangkan kondisi anak-anak muda Indonesia yang justru dicekoki dengan siaran dan tontonan bersifat negatif. Banyak sinetro-sinetron Indonesia yang justru menanamkan nilai kekerasan, gaya pergaulan bebas, minum-minuman, narkoba, dan lainya. “Kalau nggak minum nggak keren, kalau nggak teler nggak gaul, apa itu. Itu imajinasi yang salah dan negatif yang dicecoki kepada anak-anak dan remaja Indonesia ini. Karena itulah, saya menulis buku ini untuk memberikan imajinasi positif bagi para pelajar, mahasiswa, dan anak muda Indonesia,” ujarnya.

Santri Miskin Berprestasi

Nah, Kang Abik juga membocorkan sedikit nih isi novel barunya Bidadari Bermata Bening ini. Menurut Kang Abik, Bidadari Bermata Bening ini mengisahkan perjalanan hidup seorang santri putri bernama Ainul Mardhiah. Seorang putri dari keluarga miskin yang ibunya bekerja sebagai TKW di luar negeri. Nama Ainul Mardhiah ini artinya adalah Ratu Bidadari. Dia sengaja mengambil nama itu untuk tokoh di novel terbarunya untuk menekankan kekuatan karakter Aina  sebagai santri yang tangguh, baik, dan memiliki visi besar untuk kehidupan yang lebih baik. Kebeningan Aina bukan pada matanya, tapi pada hatinya yang tulus.

Saya baru sempat membaca sedikit sih novel Bidadari Bermata Bening ini, baru sekitar 5 halaman,hihihi. Tapi, di awal novel ini, pembaca sudah langsung disuguhkan dengan kekuatan karakter Aina yang sering diejek oleh santri lainnya sebagai anak seorang TKW. Bahkan, temannya sering mencelanya sebagai anak babu yang kelak hanya akan bisa menjadi babu juga. Walau kesal dan marah, Aina tidak bali mencela temannya, dia hanya mengingatkan secara baik-baik dan bersabar atas tingkah laku temannya tersebut.

Seperti yang dijelaskan Kang Abik,  Aina merupakan santri putri yang memiliki kesungguhan dan penuh ketawadukkan selama belaajar di pondok pesantren. Sikap Aina akhirnya mengantarkannya menjadi santri berprestasi dengan mendapatkan beasiswa di salah satu universitas Islam terbaik, Yordan University. Hayoooo, penasaran ya apa saja suka duka yang dihadapi oleh Aina dan bagaimana cara Aina meraih kesukses di bidang pendidikan? Baca sampai selesai buku Bidadari Bermata Bening ya!



(Rinda Mulyani)

Thursday, 7 September 2017

Srikandi Pendidikan Pulau Tegal

Langit di atas laut Sari Ringgung mulai gelap. Para pengunjung serta petugas wisata Pantai Sari Ringung satu persatu beranjak pergi. Suasana yang semakin lengang membuat debur ombak terdengar garang. Di ujung dermaga Pantai Sari Ringgung berdiri seorang perempuan paruh baya bertopi hitam. Celana kulot putihnya melambai-lambai di tiup angin pantai. Pandangan matanya nanar menembus ke seberang, Pulau Tegal, Desa Gebang, Telukpandan, Pesawaran. Desau angin membisikkan celoteh dan ‘mimpi-mimpi’ anak-anak Pulau ke telinganya. Uniroh tersenyum. Di Pulau itu, dia menemukan makna dan arti penciptaannya.

Ketua SP3T Lampung, Uniroh Utami.

Cahaya langit menembus
bumi....
terindah termakna dan tertanam
keindahan semu tak pernah pudar......
Cahaya langit menembus bumi.....
terasa, termakna.....
refleksi terbaca.........
Tuhanku Engkau maha tau
segala urusan dunia....
Tak pernah keliru menebar cahaya
ditempat yg Kau mau..
Bolehkah cahaya itu untuku.....?
Wahai Tuhanku ........
Doaku , harapku, ku sandarkan hanya pada Mu

(Uniroh Utami, 2 September 2017)

     Bermula pada September 2016,  Uniroh Utami tidak pernah tahu, kehadirannya pada kegiatan bakti sosial yang digelar Polairut Polda Lampung di Pulau Tegal akan mengantarnya kepada pengabdian yang sesungguhnya.
     Uniroh diajak oleh Camat Telukpandan, Muhammad Yuliardi untuk menjadi MC pada acara tersebut. Di tengah keriuhan suasana bakti sosial yang disesaki warga, pandangannya sulit lepas dari keliaran anak-anak usia sekolah berbaju dekil dan berkulit hitam dibakar matahari. “Apakah anak-anak ini tidak bersekolah?” gumamnya.
     Tanyanya itu tidak pernah usai, hingga beberapa awak media mewawancarai salah satu warga Pulau Tegal, Pak Basri yang selama ini mendedikasikan dirinya untuk mengajar membaca dan menulis anak-anak di Pulau tersebut. Uniroh terhenyak ketika mengetahui Pak Basri hanya lulusan SD, dan warga menganggap belajar menulis dan membaca cukup untuk menggantikan sekolah.


     Seketika, tawa riang anak-anak Pulau yang berlalu lalang di depannya menyenderanya. Betapa lugunya mereka, betapa polosnya hingga tidak berdaya beranjak dari takdir yang ada. Uniroh yang menjadi guru sejak 1989 itu merasa miris. Kondisi anak-anak Pulau yang tidak mendapatkan hak pendidikan sebagaimana mestinya menggetarkan jiwanya.
     “Inilah yang membuat saya bertekad untuk memberikan pendididikan yang sebenarnya kepada anak-anak di Pulau Tegal,” ujar Uniroh dalam perbincangan panjang kami menghabiskan siang, Rabu (6/9/2017). Ketika itu, pendidikan anak-anak di Pulau Tegal menjadi fragmen buram pendidikan di Bumi Ruwa Jurai.

Menyalakan  ‘Suluh’

Uniroh mengajar anak-anak di kapal.
     Cahaya mata Uniroh selalu berbinar ketika bicara tentang anak-anak Pulau Tegal. Menurutnya, ingatannya sulit lepas dari kondisi anak-anak Pulau Tegal. Dia kerap berpikir, kalau tidak dimulai, sampai kapan anak-anak Pulau Tegal bebas dari kegelapan? Akhirnya, Uniroh yang juga Kepala SMPN 25 Pesawaran itu mengajak salah satu guru honornya, Desta Sagita untuk menjadi guru sukarelawan mengajar anak-anak di Pulau Tegal.
     Berdua, mereka mulai menyalakan ‘suluh’ di Pulau Tegal. Keinginan baik itu tidak seindah yang dibayangkan. Masyarakat Pulau yang sudah terbiasa menjadi objek sesaat, separuh hati menerima kehadiran guru relawan. Penduduk Pulau sudah terbiasa didatangi para relawan yang kemudian pergi. Keesokkanya akan datang lagi relawan dari kelompok berbeda, dan pergi lagi.
Pulau Tegal hanya menjadi tempat singgah, tanpa ada yang benar-benar konsisten memberi perubahan pada Pulau yang berjarak 45 menit dari Ibukota Bandar Lampung ini, hingga kemudian berdiri Sukarelawan Peduli Pendidikan Pulau Tegal (SP3T) Lampung pada medio September 2016.
     “Pertamakali mengajar disana, saya tidak ditegur sama ibu-ibu. Tapi saya cuek aja, tujuan saya mengajar anak-anak, biarkan saja saya didiamin nggak apa-apa, jadi saya juga hanya menegur anak-anak aja,” tutur istri Cucu Sutarsyah ini menapak tilas perjuangannya.

Guru SP3T mengajak anak-anak Pulau Tegal berbaris sebelum belajar di Rumah Baca.
     Perjuangan menyeberang Pulau juga meninggalkan kenangan tersendiri. Para tukang perahu yang terbiasa mengantarkan wisatawan menyeberang ke Pulau Tegal memberikan harga sama untuk mereka, Rp250 ribu sekali menyeberang. Ongkos ini tentu sangat memberatkan guru relawan. Akhirnya mereka terpaksa belusukan ke muara di Gebang dan naik kapal nelayan dengan ongkos Rp100 ribu.
     “Para guru relawan SP3T sangat luar biasa, mereka melewati semak dan lumpur untuk menuju muara mencari perahu nelayan demi menyeberang mengajar anak-anak di Pulau Tegal,” kata Uniroh.

Sokongan Para Sahabat
     Di Pulau Tegal juga belum ada fasilitas pendidikan yang layak. Saat itu, para guru SP3T mengajar di Rumah Belajar seluas 4x8 meter persegi yang disekat sebagian untuk menjadi tempat tinggal Pak Basri bersama istri dan empat anaknya. Melihat kondisi itu, Uniroh tergugah untuk membangunkan rumah untuk Pak Basri.
     Dia lalu menyisir nomor telpon sahabat-sahabatnya di masa SMA yang sebagian besar sudah sukses. Kepada merekalah, Uniroh mengadu. Beruntung, hubungan baik yang selama ini dijalin menjadikan Uniroh dipercaya oleh sahabat-sahabatnya. Dari sumbangan para sahabatnya itulah Uniroh membangun rumah papan untuk tempat tinggal keluarga Pak Basri. “Itu sekitar dua bulan setelah berdirinya SP3T. Alhamdulillah, setelah membangun rumah buat Pak Basri ini, kepercayaan dari masyarakat mulai tumbuh. Mereka mulai ramah dan menyapa kami,” ujar Uniroh.

Para marinir Yon 9 Brigif 3 Piabung mendampingi dan membantu
pembangunan infrastruktur pendidikan di Pulau Tegal.
     Pembelajaran mulai berjalan lancar. Guru SP3T hadir ke pulau dua kali seminggu. Uniroh kemudian mengajak satu lagi guru honornya untuk menjadi relawan, Tri Septiana yang juga anggota Jalasenastri (istri TNI AL,  Yon 9 Brigif 3 Marinir Piabung). Hingga kini, guru SP3T menjadi enam orang, tiga lainnya adalah Indri Kusuma (istri marinir), Nurtaslihatul Amalia, dan Sri Haryani. Dengan enam guru ini, pembelajaran di Pulau Tegal pun semakin rutin, 4 kali dalam seminggu.

Magnet Pulau Tegal
     Konsistensi Uniroh sebagai Ketua SP3T memperjuangkan hak pendidikan anak-anak Pulau Tegal menjadi magnet yang menarik kepedulian banyak pihak. Pulau Tegal pun mulai bersolek. Pulau yang terisolasi ini tidak hanya mendapatkan bantuan fasilitas Rumah Baca, Renovasi Rumah Belajar, pembangunan MCK, tapi kini juga sudah diterangi oleh aliran listrik. Secara teknis, semua kegiatan SP3T, mulai dari peretasan jalan ke Pulau hingga pembangunan inftrastuktur didampingi dan dibantu oleh Yon 9 Marinir Piabung.

Anggota DPD RI Ahmad Jajuli menghadiri HUT Ke-1 SP3T
dan menjadi donatur honor bagi guru SP3T.
     “Saya sangat bersyukur, kini sudah banyak pihak yang peduli dan terlibat dalam perubahan di Pulau Tegal. Ada Yon 9 Marinir, Lazdai Lampung, Rumah Zakat Jakarta, Baznas Pusat, Perpustakaan daerah, dan kemarin anggota DPD RI asal Lampung Pak Ahmad Jajuli menyatakan komitmen untuk menjadi donatur memberikan honor bagi enam guru SP3T,” tuturnya.
     Setahun meretas pendidikan di Pulau Tegal, kini Uniroh bisa bernafas lega. Walau masih tersisa PR jangka panjang yang harus dia perjuangkan. Menurutnya, dengan kondisi sekarang, fasilitas pendidikan di Pulau Tegal sudah cukup memadai. Namun, Uniroh berpikir tentang keberlanjutan para guru relawan. “Apakah mungkin mereka mau selama-lamanya menjadi relawan? Saya kuatir, suatu saat mereka lelah, dan berhenti, maka Pulau Tegal akan kembali terisolasi,” ujarnya lirih.


     Untuk itu, Uniroh sangat berharap kepada pemerintah untuk memikirkan nasib para guru sukarelawan Pulau Tegal. “Semoga para guru ini nanti bisa masuk menjadi guru garis depan yang diprogramkan oleh pemerintah.”

(RINDA MULYANI)