"APO kaba, Ma? Lai sehat? Lebaran ini
Rinda ndak bisa pulang yo Ma. Nda mohon maaf
lahir dan batin,” dengan suara tercekat, aku mengirimkan kabar kepada
orang tuaku di kampung, Lubuk Sikaping, Pasaman, Sumatera Barat. Sebenarnya
hatiku tidak tega, karena aku tahu betapa orang tua sangat mengharapkan
anak-cucu yang diperantauan berkumpul semua di hari nan fitri. Namun, kabar itu
terpaksa harus disampaikan karena kondisi keuangan yang tidak memungkinkan.
Saat itu, jawaban dari Ibuku datar saja. “Iyo ndak
apo-apo doh, yang penting kalian semua lai sehat,” ujar Ibuku. Perbincangan
kami kemudian berlanjut ke hal lain. Aku banyak bertanya tentang perkembangan
kampung halaman serta tentang teman-teman lama yang tinggal di kampung. Di
tengah sapa tanya kabar tersebut, terkadang terselip ‘mimpi’ tentang usaha
keluarga yang bisa dibangun ke depan. Itu seminggu sebelum lebaran Idul Fitri
beberapa tahun lalu.
![]() |
| Rendang, makanan terenak di dunia, apalagi rendang buatan Ibu. |
Empat hari berikutnya, aku kembali menelpon mengabarkan
bahwa uang THR sudah dikirimkan. “Alah masak kue apo Ma? Masak randang Nda?” tanyaku
beruntun karena biasanya pada hari lebaran, orang Minang akan membuat rendang
dan lemang sebagai jamuan untuk tamu. Ini jamuan yang wajib ada, selain menu
dan kue lain.
“Ndak, Ama
ndak mamasak randang doh, kalian ndak ado nan pulang, sia nan ka mamakan,” kata
Ibuku. Jawaban itu membuatku terhenyak. Aku tahu, Ibu pasti paham kondisi kami,
tapi ternyata kerinduan orang tua itu tetap tak bisa terbendung. Dadaku terasa
sesak karena aku tahu itu bukan jawaban yang sesungguhnya.
Bukan kah rendang itu bisa disajikan untuk tamu dan
saudara-saudara yang berkunjung di hari lebaran? Dan pastinya bukan karena
tidak ada uang, kalau cuma untuk membeli 2 kilogram daging membuat rendang,
masih adalah. Jawaban ibuku merupakan ekspresi kekecewaannya karena dua anaknya
yang dirantau tidak bisa pulang tahun itu.
Aku jadi teringat lebaran tahun sebelumnya, saat aku
bersama keluarga kecilku bisa mudik ke kampung halaman. Sehari sebelum mudik, kami memberi kabar akan
berangkat hari itu. Suara Ibu terdengar riang. "Hari apo pulang? Ama alah masak randang
dagiang untuk kalian," ujar Ibuku dari seberang
telepon. Itu menyadarkanku, bahwa masakan rendang bukan sekedar masakah khas
lebaran bagi Ibuku, tapi rendang menjadi ungkapan kerinduan akan kepulangan anak-anak
dan cucu-cucunya.
![]() |
| Berkumpul pada hari raya Idul Fitri 1438 Hijriyah, 25 Juni 2017. |
Pantas saja, tidak ada yang mampu menandingi
cita rasa rendang buatan Ibu. Rendang yang dimasak penuh
cinta dan rindu. Sekarang, kalau melihat rendang, aku selalu ingin pulang.
Semangat mencicipi rendang buatan ibu juga adalah semangat untuk meraih
kesuksesan di negeri rantau. Setiap tahun, kisah ini melecutku untuk dapat
menuntaskan kerinduan kedua orang tuaku.
(Rinda Mulyani)


