ADA
peristiwa yang agak menggelitik hatiku. Semalam, 16 Agustus 2010, aku
bersama suami dan anakku makan bakso di Bakso Soni, Bandar Lampung. Aku yang
memaksa suami mampir makan bakso karena sudah tiga hari ngiler pengen makan
bakso. Sekitar pukul 21.30, seorang Lelaki berdiri di depan pintu keluarga
warung bakso. "Bapak itu ngapain ya Buk, ngendong anak, pengemis kali
ya?,"kata suamiku sambil mengarahkan pandangannya ke pintu keluar warung
bakso. Aku melirik ke arah luar. Hmmm, pantasan suamiku bertanya-tanya.
Ternyata
lelaki itu masih cukup muda, terlihat sehat, pakaiannya lumayan bersih. Dia
mengendong anak kecil. Beberapakali saya perhatikan, mulut Lelaki itu tidak
pernah bergerak setiap ada orang yang melewatinya. Dengan ragu-ragu, tangannya
yang memegang kantong plastik dimajukan. Dan, ditarik lagi dengan cepat ketika
tidak ada receh yang terulur masuk ke kantong plastik itu. Alhamdulillah,
perutku terasa sangat kenyang makan bakso. Saatnya pulang. Aku membayar bakso
dan keluar dari warung itu, menyusul suamiku.
![]() |
| Seorang pengemis sedang meminta-minta di bilangan jalan di Jakarta. (http://ciricara.com) |
Suamiku
tampak merogoh sakunya dan mengambil uang ribuan. Ketika melewati Lelaki
itu dia memasukkan uang itu ke kantong plastik yang setengah terulur ke depan.
Tiba-tiba anak yang tertidur nyenyak digendongan Lelaki itu pipis. Airnya
mengalir deras dan membasahi lantai di depan warung bakso. "Tuh anaknya
pipis Pak, kasihan," kata suamiku. Tidak ada suara jawaban yang keluar
dari mulut lelaki itu. Setelah anak digendongannya selesai pipis, dia segera
berlalu dari warung itu.
Aku
menunggu suami dekat parkir motor. Saat suamiku akan menghidupkan mesin motor,
kepalanya menoleh ke belakang. "Aku salah nggak ya Buk memberi uang
pengemis itu?," ujar suamiku. Weh, aku sempat kaget juga. Hmmm, ternyata suamiku
mulai terpengaruh dengan argumentasi para pejabat kota yang sedang sibuk
membahas Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Anak Jalanan dan Pengemis.
Di dalam
Rapreda itu dijelaskan bahwa bagi siapapun yang memberi uang kepada pengemis
akan dikenakan denda Rp3 juta rupiah. Alasan para pejabat kota Bandar Lampung
ini terlihat masuk akal. Menurut mereka, kebiasaan masyarakat memberi uang
kepada pengemis menyebabkan banyak orang yang menjadi mengemis sebagai
pekerjaan (profesi). Selain itu, memberi uang pengemis bisa membuat orang
menjadi malas, tidak mau berusaha.
Tak heran,
dengan alasan ini DKI Jakarta mendenda orang yang memberi uang kepada
pengemis sebesar Rp20 juta, di Palembang didenda Rp5 juta, begitu juga di Riau.
Dan, ternyata pejabat Bandar Lampung seperti latah ingin menerapkan peraturan
yang sama. Alasan yang keluar dari mulut suamiku sama persis dengan alasan pada
pejabat yang selalu kenyang itu. "Tapi, nanti mereka jadi malas Buk?"
kata suamiku. Saat motor melaju pulang ke rumah, kami terus berdiskusi.
"Ah,
nggak juga Mas. Kalau memang ingin memberi, beri aja, tidak usah berprasangka
macam-macam. Kita tidak tahu kondisi mereka yang sebenarnya. Kasihan, mereka
sudah mempertaruhkan harga diri demi sesuap nasi untuk istri dan anak-anak, eh,
malah diprasangkai macam-macam,"kataku pada suami. "Iya ya
Buk,". Lalu suami diam. Diskusi kami terus mengalir.
Kami tidak
menggunakan bahasa Undang-Undang untuk menguatkan hati untuk terus berbagi.
Dalam Undang-Undang dijelaskan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar wajib
dipelihara oleh negara. Dalam Islam, manusia diajurkan untuk berbagi lewat
sedekah, infak, dan zakat. Tidak ada salahnya orang-orang yang ingin
mengkoordinir zakat dan sedekah agar manfaatnya lebih terasa, dalam menciptakan
sebuah perubahan. Tapi, juga tidak ada salahnya seseorang bersedekah kepada
orang-orang menggetarkan hati mereka kan? Kami berdua merefleksikan kondisi
keluarga kami.
Kami boleh
bersyukur, pernah mendapatkan pendidikan ke jenjang yang cukup tinggi dan
sekarang mendapatkan pekerjaan yang cukup layak untuk kehidupan kami.
Tapi, tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama. Dan, tidak
semua orang memiliki kemampuan yang sama. Banyak masyarakat Indonesia yang
putus sekolah di tingkat SD dengan berbagai alasan. Sebagian besar karena
ketidakmampuan ekonomi.
Diantara
mereka yang putus sekolah itu hanya sedikit yang memiliki semangat juang untuk
terus belajar dari alam semesta. Segelintir dari mereka dikaruniai
kecerdasan mental dan kecerdasan intelektual. Walau tidak punya kesempatan
sekolah, mereka bisa sukses. Tapi, sebagian besar tidak memiliki kemampuan itu,
tidak punya keterampilan untuk bertaruh dengan hidup.
Mungkin,
orang-orang inilah yang akhirnya menjatuhkan pilihan menjadi peminta-minta.
Tentunya pilihan ini juga tidak mudah. Kehilangan harga diri dan rasa malu
adalah bayarannya. Demi bertahan hidup, memenuhi perut anak-istri yang
keroncongan. Beberapa memang ada yang bisa membangun rumah dan membeli motor
untuk usaha yang lebih baik, jadi tukang ojek.
Pertanyaannya?
Apakah kita butuh alasan untuk memberi kepada orang-orang kurang beruntung yang
melintas di depan kita dan menggetarkan hati kita? Siapa sebenarnya yang
bertanggungjawab atas nasib dan kondisi mereka saat ini? Bukankah itu menjadi
tanggungjawab kita semua? Ah, seandainya aku pengemis, apa yang aku rasakan ya?
Tidak usah ragu untuk saling berbagi!
(RINDA MULYANI)

EmoticonEmoticon