Showing posts with label lampung barat. Show all posts
Showing posts with label lampung barat. Show all posts

Wednesday, 20 December 2017

Mengejar Ombak di Pantai Tanjung Setia

Pantai Tanjung Setia
Seorang peselancar melakukan aktifitas surfing
di Pantai Tanjung Setia, Krui, Lampung Barat. Foto : lampost.co

Pertamakali menginjakkan kaki di pasir putih Pantai Tanjung Setia, Krui, Lampung Barat, mata saya terpana melihat pasir putih yang bersih dan gulungan ombak yang berkejaran menuju bibir pantai. Beberapa turis telanjang dada menenteng papan surfing berjalan santai menuju spot yang menghasilkan gelombang minimal setinggi 4 meter.

Salah satu turis asal Australia yang saya temui mengaku sudah menjadikan Tanjung Setia langganan untuk liburan surfing sekali setahun. Menurutnya, dia sudah pernah mencoba surfing di beberapa tempat wisata di Indonesia, termasuk di Bali. “Gelombang disini tidak kalah bagus dengan di Bali, untuk surfing minimal tinggi gelombang 4 meter, di Pantai ini, pada pertengah tahun ombaknya bisa sangat tinggi sampai 7 meter,” ujarnya. 

Dia mengaku memilih berwisata ke Pantai Tanjung Setia hanya disaat ombak bagus karena tujuannya untuk surving. Para peselancar manca negara yang mengejar ombak di Pantai Tanjung Setia akan menginap 3-5 bulan hanya untuk melakukan hobi mereka menaklukkan ombak.

Ketinggian Ombak Bervariasi 

Pantai Tanjung Setia berada di jalur arus besar Samudera Hindia, hal ini menjadikan ombaknya cukup stabil. Ombak pantai ini akan mencapai ketinggian tertinggi di sekitar bulan April hingga Agustus. Pada waktu tertentu, ombaknya bisa mencapai tinggi 7-18 meter, dengan panjang mencapai 200 meter. Pantai ini juga pernah menjadi lokasi pilihan penyelenggaraan even Kejuaraan Surfing International Krui Pro 2017 pada April lalu.

Pantai Tanjung Setia juga menjadi pilihan yang tepat bagi peselancar pemula karena ketinggian ombak yang bervariasi pada spot-spot tertentu, ada yang 3 meter, 4 meter, dan 5 meter. Biasanya para pemula cukup dengan ombak setinggi 3 meter. Untuk mendapatkan alat selancar seperti sepatu, papan selancar, serta pakaian surfing sangat mudah. Di sekitar pantai Tanjung Setia banyak kedai-kedai kecil yang menjual alat surfing dan diving, dan snorkeling. 

Baca juga : Diantara Keheningan Hutan Bukit Barisan

Transportasi Menuju Lokasi

Jarak dari ibu kota Provinsi, Bandar Lampung ke Tanjung Setia cukup jauh yaitu sekitar 273 kilometer, jika diakses menggunakan angkutan umum atau mobil membutuhkan waktu sekitar 6—8 jam. Makannya, kalau ingin berwisata ke Pantai Tanjung Setia, sebaiknya sediakan waktu sekitar satu minggu sehingga bisa menikmati wisata bahari Krui ini dengan puas.

Spot Snorkeling dan Diving
Pantai ini tidak hanya menjadi incaran para peselancar lokal dan manca negara, tapi juga diserbu wisatawan yang ingin menikmati keindahan sunset, bermain pasir, atau berenang di pinggir pantai. Tapi hati-hati lo ya mencari lokasi berenang, karena pinggir pantai Tanjung Setia terdapat banyak karang yang cukup tajam.

Saya pernah berenang dengan asyiknya, setelah beberapa menit keluar dari air laut, baru terasa pedih di telapan kaki, dan ternyata ada beberapa bagian yang robek karena menginjak karang tajam, hik..hik..hik.

Para  wisatawan juga bisa melakukan aktifitas snokeling dan diving pada spot-spot tertentu. Tidak usah khawatir mencari spot yang bagus, biasanya penginapan sudah menyediakan pemuda sekitar yang berprofesi sebagai guide atau pemandu wisata.

Pemuda setempat menjadi guide wisata peselencar manca negara.
Foto : lampost.co


Kuliner

Kuliner di Tanjung Setia terus berkembang. Setiap tahun, kunjungan wisatawan terus bertambah. Ini juga mendorong tumbuhnya sentra kuliner di Tanjung Setia. Selain variasi menu yang dapat Anda pesan di hotel atau tempat penginapan Anda, juga banyak rumah makan yang tumbuh di sekitar lokasi pantai dengan variasi menu nusantara, dan manca negara.

Baca Juga : Menikmati Keindahan Bawah Laut Pulau Tegal

Namun, kuliner  yang paling berkesan tentunya menikmati menu khas Lampung Barat yaitu Sop Ikan Blue Marlin atau disana dikenal dengan nama Sop Ikan Tuhuk. Sebagian besar rumah makan di Tanjung Setia juga menawarkan ikan laut segar yang siap diolah, bisa dibakar, digoreng, dipepes, atau diolah dengan saus sambal.

Penginapan

Di sepanjang pinggir Pantai Tanjung Setia terdapat penginapan, cottage, losmen, hingga hotel. Anda bisa memilih tempat menginap yang dapat disesuaikan dengan kocek Anda. Bahkan, beberapa warga yang memiliki rumah atau lahan di sekitar lokasi juga menerima sewa menginap bagi para wisatawan. Harga penginapan yang ditawarkan sekitar Rp 100.000 hingga Rp 250.000 aja per malam.

Ini beberapa hotel yang dapat Anda jadikan referensi untuk menginap selama liburan di Tanjung Setia:
Hotel Jembar Manah
Alamat: Jalan Raya Pasar Liwa
telepon: + 62-728-21012

Hotel Karang Nyimbor
Alamat: Jalan Raya Tanjung Setia, Pesisir Selatan, Biha

Hotel Permata
Alamat: Jalan Raya Way Mengaku, Liwa
telepon: + 62-728-21022
Hotel Pesagi
Alamat: Jalan Raya Sebarus, Liwa
Telepon: + 62-728-21252

Wisma Silalapai
Alamat: Jalan Raden Intan No.1 Liwa
telepon: + 62-728-21750

Kepalas Losmen
Alamat: Krui
Telepon: +62 828 721 1215




Diantara Keheningan Hutan Bukit Barisan Selatan

Sepanjang perjalanan menuju Rhino Camp, di Patok Seket, Lampung Barat, mata saya tidak bisa lepas memandang pohon-pohon besar yang berusia ratusan tahun. Hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) yang terbentang mulai dari Tanggamus hingga ujung Lampung Barat merupakan hutan hujan tropis yang rindang dan subur. 

Taman Nasional Bukit Barisan Selatan
Hutan TNBBS menjadi habitat bagi bunga Bangkai Raksasa atau Raflesia Anoldi.
Foto : jejakbocahilang.files.wordpress.com
Saya melakukan perjalanan ini bersama teman yang sama hobi traveling, beberapa waktu lalu. Dari Bandar Lampung, kami berangkat pagi, jarak dari Bandar Lampung sekitar 130,1 kilometer melalui Jalan Lintas Barat Sumatera. Untuk mencapai lokasi Rhino Camp, di Patok Seket, Lampung Barat, dibutuhkan waktu sekitar 4 jam 30 menit.

Kami meluncur menggunakan mobil partroli milik Polisi Hutan yang bertugas menjaga keamanan TNBBS. Ditemani oleh beberapa petugas dari Balai Besar TNBBS, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menggali banyak hal tentang Tapak Warisan Dunia penyumbang oksigen terbesar ini. “Jadi, tidak hanya kita yang wajib menjaga hutan TNBBS ini, tapi juga seluruh dunia karena jika hutan ini rusak, maka sekitar 1/3 oksigen dunia akan berkurang,” ujar pria berbadan tegap tersebut.

Baca Juga :  Ayo Liburan ke Taman Nasional Way Kambas 

Mobil terus melaju kencang di tengah keheningan hutan barisan selatan. Wajah saya tengadah berupaya mencapai puncak pepohonan tua yang menjulang tingggi. Saya segera mengedipkan mata saat sinar mentari menyebul dari balik dedaunan pohon-pohon raksasa tersebut.

Pohon-pohon di TNBBS ada yang sudah berumur puluhan
hingga ratusan tahun. Foto : pedomanwisata.com

Sampai di Rhino Camp, kami disambut Pak Sutrisno. Kami tidak bisa beristirahat lama-lama karena harus segera masuk hutan sebelum senja. Hanya berjalan sekitar 10 meter dari camp, ada tiga bunga Raflesia anoldi yang sedang mekar, sedangkan sekitar lima lainnya berupa putik bulat seperti bola basket.

Menurut Pak Sutrisno,  bunga bangkai raksasa itu mulai ditemukan di sekitar daerah Patok Seket sejak 1990. Saat curah hujan tinggi, bunga Raflesia yang mekar bisa mencapai 140 hingga 150 bunga. Hutan TNBBS telah menjadi habitat alami bagi perkembangan biakan raflesia anoldi.

Kami meneruskan perjalanan sekitar 5 meter dari bunga Raflesia tersebut, dan disana terdapat habitat tanaman kantong semar. Saat saya memetik salah satu kantong semar, Pak Sutrisno langsung mengingatkan saya untuk tidak meminum air yang ada di dalam kantong semar tersebut. “Hati-hati mbak, jangan diminum, coba lihat dulu, itu sudah terbuka daunnya, berarti airnya sudah beracun, kalau diminum akibatnya bisa fatal,” ujar Pak Sutrisno yang kontan membuat saya kaget dan membuang kantong semar yang saya petik.

Namun, Pak Sutrisno malah tertawa dan mencari kantong semar yang masih tertutup rapat, lalu meneguk air dalam kantong tersebut. “Nah, kalau kantong semar muda seperti ini, airnya masih bersih dan tidak beracun,” tuturnya sambil menawarkan kepada saya satu kantong semar muda. “Hehehe, nggak usah Pak,” ujar saya sambil beringsut mundur.

Usai berkeliling di sekitar hutan Rhino Camp, kami kembali ke pinggiran hutan TNBBS. Dalam perjalanan pulang, Pak Sutrisno meminta kami berhenti, dan dia memotong kayu berwarna merah yang menggelantung di sebuah pohon besar. “Ini namanya akar merah. Coba lihat, airnya banyak dan jernih,” kata dia. Glek..glek..glek.. Pak Sutrisno mengarahkan potongan akar merah ke mulutnya dan meneguk air langsung dari kayu merah itu. Kami juga diberi masing-masing satu potong akar merah. Hmm, benar, airnya dingin dan segar.

Kekayaan Flora Fauna TNBBS       

Hutan TNBBS sangat luas, sekitar 356.800 hektare, terdapat di Bengkulu seluas 88 ribu hektare, dan di Lampung seluas 290.800 hektare. Di Lampung, lahan TNBBS juga  dibagi menjadi dua wilayah yaitu di Kabupaten Tanggamus seluas 10.500 hektare dan di Lampung Barat 280.800 hektare. Kekayaan hutan TNBBS sangat luarbiasa.

Di hutan-hutan TNBBS terdapat lebih dari 300 jenis burung atau aves, 9 jenis primata seperti lutung, siamang, owa, beruk, monyet ekor panjang, bahkan di TNBBS juga ada kera terkecil di dunia yang termasuk jenis kera buku atau Tarsius bancanus. Kera ini aneh dan unik, matanya bulat besar seperi burung hantu dan kepalanya bisa berputar hingga 180 derajat. Kera ini aktif di malam hari, kalau siang hari tidur dan istirahat. Hutan ini juga menjadi habitat sekitar 90 mamalia  seperti gajah, harimau sumatera, badak, beruang madu, dan lainnya.

Adventuring naik gajah masuk hutan TNBBS.
Foto : dinaspariwisata.lampungprov.go.id

Jika ingin merasakan petualangan patroli naik gajah mengelilingi hutan TNBBS, Anda bisa mendatangi Resor TNBBS Pemerihan, Lampung Barat. Disini ada beberapa gajah yang dilatih untuk melakukan patroli mengawasi 17.500 hektare hutan TNBBS di daerah Pemerihan. Elephant Patrol yang dibentuk sejak 2009 tersebut juga berfungsi untuk mengusir gajah liar yang masuk ke kawasan penduduk.

Menjaga Kelestarian Hutan TNBBS

Untuk menjaga kelestarian hutan-hutan TNBBS, tim Balai Besar TNBBS bekerjasama dengan polisi kehutanan dengan melakukan patroli rutin masuk ke pos-pos penjagaan di tengah hutan. Petugas patroli hutan dibekali senjaga semi otomatis jenis PN1A1 yang dapat digunakan sesuai prosedur saat menghadapi pemburu liar da perambah hutan yang bersenjata locok atau rakitan.

“Kami dari Balai Besar TNBBS juga melibatkan masyarakat sekitar hutan untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan hutan ini. Karena itu sekarang ada perhutanan sosial, dimana masyarakat boleh membudidayakan tanaman hutan di demplot yang sudah disediakan,” ujar salah satu petugas TNBBS.

Dia memaparkan, saat ini sudah ada demplot tanaman anggrek dengan 130 jenis anggrek hutan yang ditemukan di hutan TNBBS. Masyarakat juga mengembangkan demplot tanaman obat, seperti pasak bumi dan akar merah.

Beberapa Peraturan Masuk TNBBS

Untuk masuk ke TNBBS harus mendapatkan izin resmi dari Balai Besar TNBBS yang berkantor di Jalan Ir H Juanda Nomor 19 Km 1, Kota Agung, Tanggamus. Beberapa hal yang harus dipahami adalah :

1.    Berdasarkan peraturan pemerintah No.59 tahun 1998, setiap pengunjung/ kendaraan yang masuk wilayah TNBBS harus membayar pintu masuk dan biaya lainnya yang sesuai.

2.    Para peneliti harus menyerahkan proposal penelitian dan dilengkapi dengan surat referensi surat lamaran dari instansi terkait. Selama penelitian, mereka akan didampingi oleh petugas TNBBS. Peneliti harus menyerahkan salinan laporan penelitian.

3.    Bagi peneliti yang ingin mengambil sampel spesimen organisme yang dilindungi harus mendapatkan izin khusus dari Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA).

4.    Pengunjung dengan tujuan pencitraan atau mengambil film / video harus mengajukan permohonan tertulis kepada kepala TNBBS dilengkapi dengan sinopsis. Selama produksi, TNBBS akan mengawal proses, dan salinan video / film harus diserahkan.

5.    Waktu paling lama tinggal bagi wisatawan adalah tujuh (7) hari.

Untuk penginapan bisa di Rhino Camp, Resor TNBBS Pemerihan, atau rumah warga di pinggiran hutan TNBBS agar Anda benar-benar merasakan petualangan sejati sebagai seorang traveller.

(Rinda Mulyani)

Thursday, 17 August 2017

Suoh, Surga yang Tersembunyi


KAKI saya seakan berpijak diatas permadani hijau nan lebar. Padang ilalang luas ini menjadi pesona lain dari bentangan biru danau di depan saya. Sore itu riak air danau  begitu tenang, angin tak terlalu kencang, saya pun terus menuruni tebing menuju bibir Danau Lebar di Suoh, Lampung Barat.

Berdiri sejenak di pinggiran danau yang dulu menjadi lokasi favorit nelayan di daerah ini, pikiran saya melayang ke tragedi gempa Liwa delapan belas tahun silam. Gempa besar itu meluluhlantakkan 75.000 rumah milik warga dan merengut 196 jiwa. Ketika itu petaka itu ditangisi dan diingat sebagai tragedi bencana alam yang tragis. Namun, tragedi ini juga yang melahirkan anugerah kesuburan dan keindahan tak terkira. Pesona yang tidak dimiliki daerah lain.

Gempa itu menciptakan sumber panas bumi Suoh yang diduga memiliki potensi energi listrik sebesar 500 megawatt. Bencana di tahun 1994 itu juga telah melahirkan tiga danau eksotis dari rahim bumi: Danau Lebar, Danau  Asam, dan Danau Minyak. Kesinilah kami melepas penat dengan menikmati keindahan surga yang tersembunyi.

Suasana padang rumput di depan Danau Lebar, Suoh, Lampung Barat.

Suoh menjadi nama yang fenomenal di Lampung. Untuk mencapai daerah dengan ketinggian 1.200 dpl (dari permukaan laut) di wilayah Lampung Barat ini para adventuring harus menembus kabut, menerabas tanah merah yang diapit perkebunan kopi dan beberapa hutan masih perawan.  Berangkat dini hari Sabtu (10-3-2012), kami nekad menempuh jalur Kotaagung—Suoh. 

Di musim panas, jalur ini cukup baik untuk dilewati dibandingkan jalur Sekicau. Namun, ada dua daerah rawan pemalakan di lintasan jalur ini, yaitu desa Rajabasa dan Gunungdoh, Tanggamus. Memilih meluncur pada pukul 01.00, membebaskan kami dari aksi pemalakan pemuda setempat.

Baca Juga : Diantara Keheningan Bukit Barisan Selatan

Jalan ini memang tidak separah dulu, tetapi tetap menegangkan. Jalan tanah merah dengan tanjakan, turunan, dan tikungan tajam membuat mobil beberapa kali terperosok lumpur basah. Kami sampai di puncak Suoh, Dusun Sukamarga, tepat sekitar pukul 04.30. Perjalanan melelahkan ini akhirnya terbayarkan. Dari badan pegunungan Cibitung ini, panorama Suoh memberi energi positif. Kepulan asap sumber air panas ibarat tungku jarangan besar yang sedang menanak air. Asap tebal tak henti-hentinya membubung tinggi ke udara. 

Salah satu sumber panas bumi di Suoh, Lampung Barat.
Salah satu objek yang luar biasa itu adalah sumber panas bumi di Suoh. Lokasi ini dijaga oleh pemuda kampung. Tempat spektakuler ini ramai dikunjungi pada hari libur dan Lebaran.  Perjalanan dari Desa Sukamarga menuju lokasi panas bumi kami tempuh bersepeda motor. 

Sampai di area persawahan yang pematang yang kecil dan lunak, kami turun dan memarkirkan motor disini. Perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki melewati sawah-sawah yang subur dan hijau. Ini masih sekitar 500 meter dari sumber panas bumi, tapi aroma belerang sudah menyebar.

Kaki kami menginjak lahan keras berwarna putih kecoklatan. Area ini mirip lantai yang dikeramik. Ini sebenarnya adalah tanah, batuan dan kayu-kayu yang mengeras akibat dialiri air belerang terus menerus. Beberapa titik di area  ini terdapat lubang-lubang kecil yang mengeluarkan air berasap. Disana dipasang tonggak kayu sebagai pembatas area yang tidak boleh diinjak. “Kalau lubang-lubang kecil seperti ini diinjak akan menyembur air panas, kaki bisa melepuh,” kata Alkodri, pemuda kampung yang sering memandu para pengunjung.

Di lokasi ini ada satu tempat yang menjadi favorit pasangan memadu cinta, yaitu hutan konservasi di belakang sumber air panas. Saat memasuki hutan, di salah satu pohon terdapat papan yang bertuliskan kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Banyak bekas manusia di sini, mulai dari ukiran nama di dahan-dahan pohon sampai sampah makanan yang menumpuk.

Lokasi panas bumi ini ternyata tidak hanya di bagian depan saja. Di belakang hutan TNBBS itu juga terdapat kawah dengan air yang menggelegak. Bahkan danau kecil yang ada di samping lokasi itu berasap. “Ini masih luas ke belakang Mbak, di balik hutan sama ada sungai air panas yang bisa digunakan untuk mandi. Saya sering mengantar pengunjung ke sana,” imbuhnya lagi.

Kisah sang penguasa danau

Sebagian besar lokasi panas bumi sudah kami sambangi. Jarum jam menunjukkan pukul 15.00, kami tak ingin menyia-nyiakan waktu. Saat ditawarkan mandi di Danau Lebar kami langsung menyambutnya dengan gembira. Jalan setapak tanah kembali kami susuri.

Kami sampai di sebuah padang ilalang yang hijau. Saat berlari kecil menuruni tebing menuju bibir danau, kami diingatkan warga setempat untuk berhenti sejenak. “Sebentar Mbak, saya lihat dulu, biasanya penguasa danau keluar sore-sore begini,” ujar Bapak berusia 45 tahun itu. 

“Oh, iya Pak ?” jawab saya. Terlintas mitos tentang makhluk gaib penunggu danau.  “Memangnya penguasa danaunya itu apa, Pak?” tanya saya penasaran. “Buaya,” katanya. “Buaya beneran apa jadi-jadian,” kejar saya. “Buaya benaran, Mbak!” kata Pak Emed.

Srrrr, nyali saya menciut, kaki saya mundur selangkah. Apalagi, kata Pak Emed, dia sering melihat buaya-buaya itu berdiam di pinggir danau pada sore hari. Pak Emed mengisahkan dulu Danau Lebar ini menjadi tempat favorit nelayan mencari ikan. Dalam satu hari nelayan bisa menangkap 5 kuintal ikan jenis gabus, nila, betok, udang, dan kepor (sejenis ikan tawas). 

Warga pinggir danau serta para pengunjung juga suka berenang di danau. Namun, semakin ramai warga yang menangguk ikan semakin mengurangi jatah makanan para penguasa danau ini. Akhirnya, buaya-buaya ini berebut makan dengan manusia. Danau  mendadak sepi sejak buaya-buaya di danau bekas rawa ini sering muncul ke permukaan. Apalagi, dua warga sudah menjadi korban. “Pernah ada yang mancing di tengah danau, tiba-tiba menghilang, perahunya ditemukan dalam keadaan terbalik,” kisah Pak Emed.

ini bukan bualan belaka, warga sering menemukan telur buaya di dalam tanah pinggiran danau. Bahkan, beberapa warga mengambil telur itu untuk ditetaskan. “Mau telur buaya, Mbak? Kemarin ada yang menemukan  20 butir di pinggiran danau sebelah sana,” kata Pak Emed. “Hehe, enggak lah, buat apa, Pak?” ujar saya menggoyangkan tangan kanan saya menegaskan penolakan.

Berenang di Danau Asam, Suoh, Lampung Barat.
Setelah mengamati pinggir danau dari kejauhan, kami baru turun menyusul Pak Emed yang sudah duluan memangkas semak-semak membuat jalan. Akhirnya, sampai juga di bibir danau. Ingin sekali rasanya meraup aiarnya dan membasuhkan ke muka. Namun, bayangan buaya seakan melekat, niat itu akhirnya kami urungkan. Keinginan untuk mencebur merasakan segarnya air danau kami tahan sebisanya, daripada salah paham dengan sang penguasa danau, ada baiknya cukup menikmati pemandangan saja.

Hampir setengah jam kami menikmati keindahan danau ini. Dari sini kami bisa melihat rumah-rumah penduduk beberapa desa dengan dua tower menjulang tinggi di perbatasan desa. Setelah itu kami beranjak ke danau Minyak, dan terakhir di Danau Asam. Disini, para pengunjung diperbolehkan mandi dan berenang. 

Tanpa berpikiran panjang, kami langsung menceburkan diri. Tubuh kami terasa segar direndam air danau ini. Danau Asam menjadi ujung perjalanan sore hari. Kami kembali ke rumah warga tempat menginap semalam. Sesampai di rumah, kami disambut dengan menu satai ayam kampung. Hmmm, nikmat! Lelah, lapar, tuntas sudah!  (Rinda Mulyani)