Sepanjang perjalanan menuju Rhino Camp, di
Patok Seket, Lampung Barat, mata saya tidak bisa lepas memandang pohon-pohon
besar yang berusia ratusan tahun. Hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan
(TNBBS) yang terbentang mulai dari Tanggamus hingga ujung Lampung Barat
merupakan hutan hujan tropis yang rindang dan subur.
![]() |
| Hutan TNBBS menjadi habitat bagi bunga Bangkai Raksasa atau Raflesia Anoldi. Foto : jejakbocahilang.files.wordpress.com |
Saya melakukan perjalanan ini bersama teman yang sama hobi traveling, beberapa waktu lalu. Dari Bandar Lampung, kami berangkat pagi, jarak dari Bandar Lampung sekitar 130,1 kilometer melalui
Jalan Lintas Barat Sumatera. Untuk mencapai lokasi Rhino Camp, di Patok Seket,
Lampung Barat, dibutuhkan waktu sekitar 4 jam 30 menit.
Kami meluncur menggunakan mobil partroli
milik Polisi Hutan yang bertugas menjaga keamanan TNBBS. Ditemani oleh beberapa
petugas dari Balai Besar TNBBS, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk
menggali banyak hal tentang Tapak Warisan Dunia penyumbang oksigen terbesar
ini. “Jadi, tidak hanya kita yang wajib menjaga hutan TNBBS ini, tapi juga
seluruh dunia karena jika hutan ini rusak, maka sekitar 1/3 oksigen dunia akan
berkurang,” ujar pria berbadan tegap tersebut.
Baca Juga : Ayo Liburan ke Taman Nasional Way Kambas
Baca Juga : Ayo Liburan ke Taman Nasional Way Kambas
Mobil terus melaju kencang di tengah keheningan
hutan barisan selatan. Wajah saya tengadah berupaya mencapai puncak pepohonan
tua yang menjulang tingggi. Saya segera mengedipkan mata saat sinar mentari
menyebul dari balik dedaunan pohon-pohon raksasa tersebut.
![]() |
| Pohon-pohon di TNBBS ada yang sudah berumur puluhan hingga ratusan tahun. Foto : pedomanwisata.com |
Sampai di Rhino Camp, kami disambut
Pak Sutrisno. Kami tidak bisa beristirahat lama-lama karena harus segera masuk
hutan sebelum senja. Hanya berjalan sekitar 10 meter dari camp, ada tiga bunga Raflesia anoldi yang sedang mekar, sedangkan sekitar lima lainnya berupa putik
bulat seperti bola basket.
Menurut Pak Sutrisno, bunga
bangkai raksasa itu mulai ditemukan di sekitar daerah Patok Seket sejak 1990.
Saat curah hujan tinggi, bunga Raflesia yang mekar bisa mencapai 140 hingga 150
bunga. Hutan TNBBS telah menjadi habitat alami bagi perkembangan biakan
raflesia anoldi.
Kami meneruskan perjalanan sekitar 5 meter dari bunga Raflesia tersebut, dan disana terdapat habitat tanaman kantong semar. Saat saya memetik salah satu kantong
semar, Pak Sutrisno langsung mengingatkan saya untuk tidak meminum air yang ada
di dalam kantong semar tersebut. “Hati-hati mbak, jangan diminum, coba lihat
dulu, itu sudah terbuka daunnya, berarti airnya sudah beracun, kalau diminum
akibatnya bisa fatal,” ujar Pak Sutrisno yang kontan membuat saya kaget dan
membuang kantong semar yang saya petik.
Namun, Pak Sutrisno malah tertawa dan
mencari kantong semar yang masih tertutup rapat, lalu meneguk air dalam kantong
tersebut. “Nah, kalau kantong semar muda seperti ini, airnya masih bersih dan
tidak beracun,” tuturnya sambil menawarkan kepada saya satu kantong semar muda.
“Hehehe, nggak usah Pak,” ujar saya sambil beringsut mundur.
Usai berkeliling di sekitar hutan Rhino
Camp, kami kembali ke pinggiran hutan TNBBS. Dalam perjalanan pulang, Pak
Sutrisno meminta kami berhenti, dan dia memotong kayu berwarna merah yang menggelantung
di sebuah pohon besar. “Ini namanya akar merah. Coba lihat, airnya banyak dan
jernih,” kata dia. Glek..glek..glek.. Pak Sutrisno mengarahkan potongan akar merah
ke mulutnya dan meneguk air langsung dari kayu merah itu. Kami juga diberi masing-masing
satu potong akar merah. Hmm, benar, airnya dingin dan segar.
Kekayaan Flora Fauna
TNBBS
Hutan TNBBS sangat luas, sekitar 356.800
hektare, terdapat di Bengkulu seluas 88 ribu hektare, dan di Lampung seluas
290.800 hektare. Di Lampung, lahan TNBBS juga dibagi menjadi dua
wilayah yaitu di Kabupaten Tanggamus seluas 10.500 hektare dan di Lampung Barat
280.800 hektare. Kekayaan hutan TNBBS sangat luarbiasa.
Di hutan-hutan TNBBS terdapat lebih dari
300 jenis burung atau aves, 9 jenis primata seperti lutung, siamang, owa,
beruk, monyet ekor panjang, bahkan di TNBBS juga ada kera terkecil di dunia
yang termasuk jenis kera buku atau Tarsius bancanus. Kera ini aneh dan unik,
matanya bulat besar seperi burung hantu dan kepalanya bisa berputar hingga 180
derajat. Kera ini aktif di malam hari, kalau siang hari tidur dan istirahat.
Hutan ini juga menjadi habitat sekitar 90 mamalia seperti gajah,
harimau sumatera, badak, beruang madu, dan lainnya.
![]() |
| Adventuring naik gajah masuk hutan TNBBS. Foto : dinaspariwisata.lampungprov.go.id |
Jika ingin merasakan petualangan patroli
naik gajah mengelilingi hutan TNBBS, Anda bisa mendatangi Resor TNBBS
Pemerihan, Lampung Barat. Disini ada beberapa gajah yang dilatih untuk
melakukan patroli mengawasi 17.500 hektare hutan TNBBS di daerah Pemerihan.
Elephant Patrol yang dibentuk sejak 2009 tersebut juga berfungsi untuk mengusir
gajah liar yang masuk ke kawasan penduduk.
Menjaga Kelestarian Hutan TNBBS
Untuk menjaga kelestarian hutan-hutan
TNBBS, tim Balai Besar TNBBS bekerjasama dengan polisi kehutanan dengan
melakukan patroli rutin masuk ke pos-pos penjagaan di tengah hutan. Petugas
patroli hutan dibekali senjaga semi otomatis jenis PN1A1 yang dapat digunakan
sesuai prosedur saat menghadapi pemburu liar da perambah hutan yang bersenjata
locok atau rakitan.
“Kami dari Balai Besar TNBBS juga
melibatkan masyarakat sekitar hutan untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan
hutan ini. Karena itu sekarang ada perhutanan sosial, dimana masyarakat boleh
membudidayakan tanaman hutan di demplot yang sudah disediakan,” ujar salah satu
petugas TNBBS.
Dia memaparkan, saat ini sudah ada demplot
tanaman anggrek dengan 130 jenis anggrek hutan yang ditemukan di hutan TNBBS.
Masyarakat juga mengembangkan demplot tanaman obat, seperti pasak bumi dan akar
merah.
Beberapa Peraturan Masuk TNBBS
Untuk masuk ke TNBBS harus mendapatkan
izin resmi dari Balai Besar TNBBS yang berkantor di Jalan Ir H Juanda Nomor 19
Km 1, Kota Agung, Tanggamus. Beberapa hal yang harus dipahami adalah :
1. Berdasarkan peraturan pemerintah No.59
tahun 1998, setiap pengunjung/ kendaraan yang masuk wilayah TNBBS harus membayar
pintu masuk dan biaya lainnya yang sesuai.
2. Para peneliti harus menyerahkan proposal
penelitian dan dilengkapi dengan surat referensi surat lamaran dari instansi
terkait. Selama penelitian, mereka akan didampingi oleh petugas TNBBS. Peneliti
harus menyerahkan salinan laporan penelitian.
3. Bagi peneliti yang ingin mengambil sampel
spesimen organisme yang dilindungi harus mendapatkan izin khusus dari
Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA).
4. Pengunjung dengan tujuan pencitraan atau
mengambil film / video harus mengajukan permohonan tertulis kepada kepala TNBBS
dilengkapi dengan sinopsis. Selama produksi, TNBBS akan mengawal proses, dan
salinan video / film harus diserahkan.
5. Waktu paling lama tinggal bagi wisatawan
adalah tujuh (7) hari.
Untuk penginapan bisa di Rhino Camp, Resor
TNBBS Pemerihan, atau rumah warga di pinggiran hutan TNBBS agar Anda
benar-benar merasakan petualangan sejati sebagai seorang traveller.
(Rinda Mulyani)


